SAMARINDA.nusantaranews.info — Rabu 13 Mei 2026 menjadi hari penuh haru bagi Nunung Dwi Astutik. Di ruang seminar Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, ia menjalani Seminar Hasil Penelitian Tesis sebagai langkah akhir menuju gelar magister.
Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) itu mempresentasikan tesis berjudul “Komunikasi Interpersonal Petugas Lapas Dalam Program Etam Bekesah Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan Seumur Hidup di Lapas Kelas IIA Samarinda.”
Namun bagi Nunung, sidang tersebut bukan sekadar proses akademik. Di baliknya ada perjalanan hidup panjang yang penuh perjuangan hingga akhirnya mampu berdiri di titik tersebut.
Seminar hasil tesis tersebut dihadiri tim penguji yang terdiri dari Dr. Hj. Ida Suryani Wijaya, M.Si sebagai penguji utama, Dr. Hj. Sy. Nurul Syobah, M.Si sebagai Penguji I, serta Dr. H. Fuad Fansuri, Lc., M.Th.I sebagai Penguji II.
Nunung mengaku dirinya dulu hanya lulusan SMP dan tidak pernah membayangkan bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister.
“Dulu saya sebenarnya cuma tamat SMP. Saya tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini dan selangkah lagi mendapatkan gelar magister,” ungkapnya haru.
Ia mengatakan perjalanan pendidikan yang dijalaninya tidak mudah. Banyak tantangan dan persoalan hidup yang harus dihadapi selama bertahun-tahun.
“Tidak mudah sampai ke titik ini. Banyak sekali lika-liku kehidupan dan pendidikan yang saya jalani,” katanya.
Suasana sidang yang awalnya ia bayangkan penuh ketegangan justru berubah menjadi momen hangat yang tidak terlupakan. Para dosen penguji yang sebelumnya ia takuti, menurutnya justru memberikan dukungan moral dan motivasi kehidupan.
“Di dalam ruang sidang saya sangat terharu. Dosen penguji yang biasanya ditakuti saat sidang ternyata malah memberikan banyak motivasi agar bisa hidup lebih baik lagi, terutama dalam hal aqidah. Suasana sidang berlangsung hangat dan tidak tegang sama sekali,” terangnya.
Momen paling membekas terjadi ketika salah satu penguji menyampaikan bahwa dirinya tidak sendiri menjalani kehidupan di Kota Samarinda. Ucapan tersebut membuat Nunung merasa terharu merasakan kasih sayang selayaknya orang tuanya sendiri dan sebagai bentuk dukungan serta penguatan batin untuknya di tengah berbagai persoalan hidup yang sedang dihadapinya.
“Saya sempat terharu ketika salah satu penguji mengatakan bahwa saya tidak sendiri tinggal di Samarinda. Ada rasa peduli dan empati yang benar-benar saya rasakan dari beliau terhadap masalah-masalah yang pernah saya alami,” katanya.
Nunung juga menyampaikan bahwa pendidikan bukan hanya soal mengejar gelar akademik. Menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana seseorang memiliki akhlak dan menjadi pribadi yang lebih baik.
“Tidak semua orang mendapatkan kemudahan dalam menempuh pendidikan. Mungkin sekarang banyak generasi yang bisa meraih gelar sarjana hingga doktor. Tapi yang terpenting bukan hanya gelar yang kita miliki, melainkan bagaimana kita bisa menjadi manusia yang berbudi pekerti,” katanya.
Ia mengaku selama menempuh pendidikan di universitas Islam, dirinya banyak belajar tentang kehidupan dan bagaimana menjadi muslim yang lebih taat. Namun, ia juga menyadari dirinya masih berada dalam fase kehidupan yang belum sepenuhnya stabil dan tidak luput dari kesalahan.
“Saat ini saya masih berada di fase labil dan tidak luput dari kesalahan, tapi saya ingin terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik,” ucapnya.
Meski nantinya resmi menjadi alumni Pascasarjana UINSI Samarinda, Nunung berharap hubungan baik dengan para dosen tetap terjalin. Baginya, nasihat dan motivasi yang diberikan selama masa perkuliahan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.













