SAMARINDA.nusantaranews.info – Banyak orang menganggap obrolan ringan hanya sekadar basa-basi atau bahkan membuang waktu. Padahal, dalam kajian Ilmu Komunikasi, percakapan sederhana justru menjadi pintu masuk lahirnya kepercayaan, kedekatan, dan hubungan yang kuat antarmanusia.
Pemahaman inilah yang membuat Nunung Dwi Astutik jatuh cinta pada Ilmu Komunikasi hingga mengantarkannya menempuh pendidikan sarjana (S1) dan magister (S2) di bidang yang sama.
“Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan tanpa komunikasi. Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menyampaikannya,”terangnya.
Kalimat tersebut menjadi motivasi Nunung dalam menempuh perjalanan akademiknya. Baginya, komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan kemampuan memahami . Ia percaya bahwa banyak persoalan muncul bukan karena orang tidak memiliki solusi, tetapi karena mereka gagal saling memahami.
Nunung merupakan putri kedua sekaligus anak perempuan satu-satunya dari pasangan Alm. Supono dan Katini. Ayahnya telah tinggal dan bekerja sebagai mandor di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Barat. Sebagian besar keluarga dari pihak ayah menetap di Sumatera, sedangkan keluarga ibunya berasal dari Blitar, Jawa Timur.
Masa kecil hingga menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dijalaninya di Jawa bersama kakeknya. Memasuki usia remaja ia menyusul orang tuanya.
Kehidupan di lingkungan perkebunan yang jauh dari keramaian membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca, menulis waktu itu menulis puisi hobinya. Di masa remaja itulah ia menyadari bahwa dirinya lebih mudah mengungkapkan isi hati melalui tulisan dibandingkan berbicara secara langsung.
Ia sering merasa kesulitan memilih kata-kata ketika harus menyampaikan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Tidak jarang apa yang ingin disampaikan justru dipahami berbeda oleh orang lain. Pengalaman itulah yang kemudian menumbuhkan keinginannya mempelajari Ilmu Komunikasi agar mampu menyampaikan pesan dengan baik sekaligus memahami cara berpikir dan karakter orang lain.
Ketertarikannya terhadap Ilmu Komunikasi semakin bertambah ketika mempelajari bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu dibangun melalui pembicaraan yang serius.
Dalam kajian Ilmu Komunikasi, percakapan ringan atau komunikasi fatis (phatic communication) memiliki fungsi penting untuk menciptakan kedekatan, rasa nyaman, dan saling percaya.
Konsep yang diperkenalkan oleh antropolog Bronisław Malinowski menjelaskan bahwa sapaan, menanyakan kabar, berbincang santai, atau obrolan sederhana yang sering dianggap tidak penting justru berfungsi membangun dan memelihara hubungan sosial.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan pemikiran pakar komunikasi interpersonal Joseph A. DeVito yang menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal tidak hanya bertujuan bertukar informasi, tetapi juga membangun, memelihara, dan mengembangkan hubungan antarmanusia.
Sementara itu, Julia T. Wood menjelaskan bahwa hubungan yang sehat tumbuh melalui interaksi sehari-hari yang sederhana. Percakapan ringan menjadi dasar munculnya rasa percaya, kenyamanan, dan keterbukaan sebelum seseorang bersedia berbagi persoalan yang lebih mendalam.
Pemahaman tersebut membuat Nunung semakin mencintai Ilmu Komunikasi. Menurutnya, banyak orang terlalu fokus mencari solusi atas suatu persoalan, tetapi lupa membangun hubungan. Padahal, ketika hubungan telah terjalin dengan baik melalui perhatian sederhana dan komunikasi yang tulus, proses saling memahami akan menjadi jauh lebih mudah.
Baginya, obrolan ringan bukan sekadar mengisi waktu. Dari percakapan sederhana seseorang mulai mengenal karakter lawan bicaranya, memahami cara berpikirnya, mengetahui bagaimana ia merespons suatu persoalan, hingga memahami kondisi emosinya. Ketika rasa percaya telah tumbuh, komunikasi yang lebih mendalam pun menjadi lebih mudah dilakukan.
Kecintaannya terhadap Ilmu Komunikasi membuatnya memilih komunikasi interpersonal sebagai fokus penelitian pada jenjang S1 maupun S2.
Menurut Nunung, komunikasi interpersonal merupakan proses komunikasi secara langsung antara dua orang atau lebih yang bertujuan membangun saling pengertian. Di dalamnya terdapat unsur keterbukaan, empati, sikap saling mendukung, saling menghargai, kepercayaan, serta kemampuan mendengarkan secara aktif.
Komunikasi interpersonal tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga membangun hubungan yang membuat seseorang merasa dipahami, dihargai, dan diterima.
Ketertarikan tersebut mengantarkannya memilih penelitian mengenai hubungan komunikasi interpersonal yang dilakukan petugas panti jompo dengan para lanjut usia (lansia) sebagai tugas akhir S1.
Menurut Nunung, lansia merupakan kelompok yang membutuhkan perhatian lebih karena mengalami berbagai perubahan akibat proses penuaan. Penurunan pendengaran, berkurangnya daya ingat, perubahan kesehatan, kehilangan pasangan hidup, hingga berkurangnya aktivitas sosial dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Tidak sedikit lansia menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, sering mengulang cerita, atau tampak mudah marah. Namun, menurutnya, perilaku tersebut tidak boleh langsung dinilai sebagai sifat buruk.
Di balik perubahan itu sering kali tersimpan rasa kesepian, ketakutan, kecemasan, atau keinginan untuk didengarkan. Karena itu, petugas panti maupun keluarga memerlukan kemampuan komunikasi interpersonal agar mampu memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh lansia.
Mendengarkan dengan sabar, memenggunakan bahasa yang lembut, serta memberikan perhatian yang tulus merupakan bagian dari komunikasi yang mampu membuat lansia merasa dihargai.
Ketertarikannya terhadap seseorang yang membutuhkan perhatian lebih berlanjut pada penelitian S2 mengenai komunikasi interpersonal antara petugas lembaga pemasyarakatan dengan narapidana.
Menurut Nunung, seseorang yang menjalani pidana tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum. Namun, dalam proses pembinaan, komunikasi interpersonal memiliki peran yang sangat penting. Setiap warga binaan memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda.
Ada yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, menghadapi tekanan ekonomi, mengalami pengalaman traumatis, atau persoalan lain yang turut memengaruhi perjalanan hidupnya.
Baginya, memahami latar belakang seseorang bukan berarti membenarkan kesalahan yang dilakukan. Sebaliknya, pemahaman tersebut membantu petugas menentukan pendekatan komunikasi yang lebih tepat sehingga proses pembinaan dapat berjalan secara efektif.
Ketika warga binaan merasa didengarkan, dihargai, dan diperlakukan secara manusiawi, mereka akan lebih terbuka untuk menerima pembinaan, menyadari kesalahan, dan berusaha memperbaiki diri.
“Bagi saya, komunikasi adalah jembatan yang menghubungkan hati dan pikiran. Ketika kita memahami karakter seseorang, kita tidak mudah menghakimi. Kita belajar mendengar, memahami, lalu mencari solusi bersama. Itulah alasan saya memilih menempuh S1 hingga S2 di bidang Ilmu Komunikasi,” ujar Nunung.

Kini, ilmu yang dipelajarinya tidak hanya menjadi bekal akademik, tetapi juga menjadi cara pandang dalam menjalani kehidupan.
Ia percaya bahwa komunikasi yang dibangun dengan empati, kesabaran, keterbukaan, mampu mengurangi konflik, mempererat hubungan antarmanusia, serta menjadi jalan untuk membantu orang lain menemukan harapan dan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Baginya, hakikat Ilmu Komunikasi bukan hanya mengajarkan cara berbicara, tetapi juga mengajarkan cara memanusiakan manusia.













