SAMARINDA, Nusantaranews.info — Dengan modal awal hanya Rp3 juta dan tekad kuat untuk tetap produktif di rumah sambil mengurus anak dan orang tua, Rini Ismawati membuktikan bahwa usaha pertanian rumahan bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
Bermula pada tahun 2015 dengan 30 pipa hidroponik di samping rumah untuk konsumsi pribadi, Rini yang sebelumnya bekerja di bidang properti perlahan membesarkan skala usahanya. Kini, kebun mandiri yang ia kelola di kawasan Samarinda telah berkembang pesat, memproduksi ratusan hingga ribuan kemasan sayuran segar per hari dan puluhan kilogram jamur tiram.
“Awalnya hanya ingin tetap bisa produktif dari rumah, sambil mengurus anak dan orang tua. Jadi saya mulai dengan hidroponik. Ternyata berkembang dan terus bertambah,” ungkap Rini kepada tim Nusantaranews.
Produksi Harian Mengesankan
Setiap harinya, Rini mampu memanen antara 700 hingga 1.500 kemasan sayuran terutama sawi hidroponik dan tak kurang dari 50 kilogram jamur tiram. Produk-produk ini telah dipasarkan ke berbagai titik di Samarinda seperti Pasar Segiri, Bengkuring, Rahmat, hingga Sungai Dama, bahkan sempat menembus pasar luar kota seperti Bontang dan Sangatta.
Selain sayur dan jamur, kebunnya kini juga menghasilkan jambu berbagai varietas (Cincalo, Deli Madu, Citra Jumbo, dan Red Korea), telur bebek, serta ikan konsumsi. Semua itu diproduksi di lahan seluas kurang lebih satu hektare, termasuk dengan kolam-kolam terpal dan kandang ternak sederhana.

Memberdayakan Masyarakat Sekitar
Usaha pertanian Rini bukan hanya menopang keluarganya, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
“Ada yang bekerja tetap dengan gaji bulanan, ada juga yang harian terutama saat masa tanam atau panen. Semua tetangga,” kata Rini.
Kendati demikian, perjalanan ini tidak bebas hambatan. Ia mengakui berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari hama, cuaca ekstrem, hingga kerugian akibat gagal panen. Namun semangat dan konsistensi menjadi kunci keberhasilan.
“Kadang hasilnya hanya cukup untuk bayar gaji karyawan. Tapi saya tetap jalan terus. Yang penting mau berusaha dulu, nanti jalan itu akan terbuka,” tuturnya penuh semangat.
Menatap Masa Depan: Agrowisata Edukasi
Ke depan, Rini memiliki visi besar: menjadikan kebun mandirinya sebagai sentra agrowisata edukatif. Ia telah mulai menanam di lahan perbukitan dengan rencana membangun kolam pemancingan, area pelatihan pertanian untuk pelajar, dan lahan praktik bercocok tanam.

“Sudah pernah juga siswa SD datang ke sini untuk belajar tanam sawi, keliling kebun, lihat bebek. Harapannya bisa lebih besar dan bermanfaat,” ujar Rini, yang kini lebih nyaman disebut sebagai petani sekaligus pengusaha kebun mandiri.
Kisah Rini Ismawati menjadi bukti nyata bahwa inovasi dan ketekunan dalam skala rumah tangga bisa berdampak luas baik secara ekonomi maupun sosial bagi lingkungan sekitar.













