SAMARINDA, nusantaranews.info — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Samarinda terus mengembangkan berbagai program pembinaan kemandirian bagi warga binaan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Melalui beragam kegiatan keterampilan dan program ketahanan pangan, warga binaan diberikan kesempatan untuk mengasah kemampuan, meningkatkan produktivitas, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pidana.

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda, Puang Dirham A.Md.IP., S.Sos., M.M., melalui Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Krestyarto, S.H., mengatakan pembinaan kemandirian menjadi salah satu fokus utama yang dijalankan pihak lapas selain pembinaan kepribadian.
“Bidang pertama yang kami laksanakan adalah ketahanan pangan. Selain itu ada juga berbagai kegiatan keterampilan yang melibatkan warga binaan sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian,” ujar Krestyarto, Jumat (12/6/2026).

Berbagai keterampilan yang dikembangkan di antaranya usaha konveksi atau menjahit, pembuatan relief, kerajinan tangan, miniatur kapal, hingga jasa potong rambut (barber shop).
Menurut Krestyarto, unit konveksi yang dikelola warga binaan bahkan telah menerima pesanan pembuatan pakaian dari sejumlah satuan kerja di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
“Konveksi menjahit ini melayani berbagai pesanan pakaian dari instansi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, baik dari imigrasi, lapas maupun rutan. Bahkan Lapas Tenggarong juga pernah memesan pembuatan pakaian dinas di sini,” jelasnya.
Di bidang kerajinan, warga binaan menghasilkan berbagai karya seni berupa relief dan miniatur kapal yang dibuat secara mandiri dengan pendampingan petugas yang memiliki kemampuan di bidang tersebut.

Selain menghasilkan produk, Lapas Narkotika Samarinda juga mengembangkan layanan jasa melalui unit barber shop yang dijalankan oleh warga binaan yang telah mendapatkan pelatihan khusus.
Sebelum terjun dalam kegiatan kerja, para warga binaan terlebih dahulu mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan bekerja sama dengan pihak ketiga. Pelatihan tersebut mencakup bidang konveksi, barber shop, serta ketahanan pangan, termasuk teknik budidaya dan perawatan tanaman.
Tak hanya itu, program ketahanan pangan juga terus diperluas melalui pengembangan budidaya ikan, lebah madu kelulut, serta berbagai komoditas pertanian seperti terong dan cabai.
“Kami terus mendukung program pemerintah melalui pengembangan ketahanan pangan. Selain tanaman, ada juga budidaya ikan, madu kelulut dan berbagai kegiatan perikanan lainnya,” katanya.
Kristanto menegaskan seluruh program pembinaan tersebut bertujuan membentuk mental dan keterampilan warga binaan agar siap kembali menjadi bagian dari masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.
“Kami berharap ketika mereka keluar nanti sudah memiliki mental yang siap, kembali diterima oleh masyarakat, dan mampu menjalani kehidupan yang lebih baik bersama keluarganya,” ungkapnya.
Saat ini jumlah penghuni Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda mencapai sekitar 952 orang, sementara kapasitas hunian hanya sekitar 450 orang.
Meski demikian, pihak lapas terus berupaya memberikan kesempatan kepada sebanyak mungkin warga binaan untuk mengikuti kegiatan pembinaan, baik kemandirian maupun kepribadian.
Menurut Krestyarto, keterbatasan jumlah petugas dan kebutuhan pengawasan membuat belum seluruh warga binaan dapat terlibat dalam kegiatan kerja. Namun berbagai fasilitas pembinaan terus disediakan agar mereka dapat mengembangkan keterampilan maupun mempelajari keahlian baru selama menjalani masa pidana.
“Dari jumlah tersebut, sekitar separuh warga binaan mengikuti program pembinaan, baik kemandirian maupun kepribadian. Selain kegiatan kerja, mereka juga mengikuti pengajian, kegiatan keagamaan gereja, serta berbagai program pembinaan lainnya yang mendukung proses pembentukan karakter,” pungkasnya.
Melalui berbagai program tersebut, Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada masa pidana, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali hidup mandiri, produktif, dan diterima di tengah masyarakat.













