Lapas Samarinda Kembangkan Keterampilan Relief, Bekal Warga Binaan Menuju Masa Depan

Kasi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Samarinda, Gunawan S.E., meninjau hasil karya relief yang dibuat warga binaan dalam program pembinaan kemandirian.

SAMARINDA, nusantaranews.info – Lapas Kelas IIA Samarinda terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP):’’_ melalui berbagai kegiatan keterampilan. Salah satu program yang saat ini mendapat perhatian adalah pembuatan lukisan relief atau gambar timbul yang diharapkan dapat menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan setelah kembali ke masyarakat.

Kepala Lapas Kelas IIA Samarinda, Yohanis Varianto A.Md.IP., S.H., melalui Kepala Seksi (Kasi) Kegiatan Kerja, Gunawan S.E., menjelaskan bahwa kegiatan pembuatan relief dikembangkan karena adanya warga binaan yang memiliki kemampuan khusus di bidang tersebut.

“Untuk pembuatan lukisan relief atau gambar timbul, memang ada warga binaan yang memiliki keterampilan dan menekuni bidang tersebut. Karena itu, saya mengembangkan kegiatan pembuatan relief di Lapas Kelas IIA Samarinda. Proses pengerjaannya memerlukan waktu sekitar dua minggu. Bahan yang digunakan berasal dari serbuk kayu yang terlebih dahulu diayak hingga halus, kemudian dicampur dengan lem Rajawali (bahan perekat untuk mencampur serbuk kayu),” jelas Gunawan, Kamis (11/6/2026).

Menurutnya, setelah bahan siap digunakan, warga binaan terlebih dahulu membuat sketsa atau gambar sebagai pola dasar. Selanjutnya, campuran serbuk kayu dan lem ditempel mengikuti pola yang telah dibuat hingga menghasilkan relief atau gambar timbul sesuai bentuk yang diinginkan.

Baca Juga  Karang Taruna Gempur Samarinda Kembangkan Model Ekonomi Hijau Untuk Ketahanan Pangan Dan Pakan Berkelanjutan

Program tersebut saat ini masih bergantung pada satu warga binaan yang memiliki keterampilan khusus dalam pembuatan relief. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam upaya menjaga keberlangsungan program pembinaan tersebut.

“Pembuatan relief ini dilakukan oleh warga binaan yang memiliki keterampilan di bidang seni. Namun, kendala yang kami hadapi adalah hanya ada satu warga binaan yang benar-benar memiliki kemampuan tersebut,” ujarnya.

Untuk menjaga keberlanjutan program, pihak lapas telah berupaya melakukan regenerasi melalui transfer keterampilan kepada warga binaan lainnya. Namun proses tersebut belum sepenuhnya berhasil karena teknik pembuatan relief membutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam belajar.

“Sebelumnya saya sudah meminta agar dilakukan regenerasi atau transfer keterampilan kepada warga binaan lainnya. Namun, teman-teman warga binaan yang belajar masih belum mampu menguasai teknik pembuatannya secara maksimal,” katanya.

Gunawan mengungkapkan, warga binaan yang selama ini menjadi pengrajin utama relief diperkirakan akan segera bebas pada bulan ini. Oleh karena itu, pihak lapas berencana menggandeng pihak ketiga untuk memperkuat program pelatihan keterampilan tersebut.

“Akhirnya, pada bulan ini warga binaan yang memiliki kemampuan tersebut kemungkinan akan bebas setelah menjalani masa pidananya. Karena itu, kami berencana mengadakan pelatihan-pelatihan dan kemungkinan bekerja sama dengan pihak ketiga, khususnya BLK atau lembaga pelatihan keterampilan,” ungkapnya.

Baca Juga  BMKG Prediksi Kemarau 2026 di Kaltim Tak Ekstrem, Warga Diminta Tampung Air Hujan

Selain pelatihan, Lapas Kelas IIA Samarinda juga memiliki rencana pengembangan galeri karya warga binaan. Galeri tersebut nantinya diharapkan menjadi tempat produksi sekaligus sarana promosi hasil karya warga binaan.

“Sesuai rencana yang pernah disampaikan Bapak Kalapas, apabila bangunan bekas warung yang berada di samping lapas nantinya dibongkar dan dijadikan galeri, maka warga binaan yang sudah bebas berpeluang dipanggil kembali untuk berkarya di tempat tersebut. Galeri itu nantinya dapat menjadi tempat untuk membuat dan memamerkan karya relief. Mudah-mudahan rencana tersebut dapat terwujud ke depannya,” tuturnya.

Karya relief yang dihasilkan warga binaan juga direncanakan untuk ditampilkan dalam berbagai kegiatan pameran sebagai bentuk pengenalan hasil pembinaan kepada masyarakat luas.

“Karya relief ini nantinya dapat ditampilkan dalam berbagai kegiatan pameran. Misalnya pada peringatan hari jadi Pemerintah Provinsi atau kegiatan pameran lainnya. Tujuannya agar masyarakat mengetahui bahwa lapas tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga menghasilkan karya kreatif dari warga binaan. Selain itu, karya tersebut dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung dan menunjukkan bahwa warga binaan memiliki keterampilan yang dapat bersaing dalam berbagai kegiatan promosi dan pameran,” jelas Gunawan.

Baca Juga  Rakorda BAZNAS Dorong Perolehan Zakat dan Kolaborasi untuk Kesejahteraan Kaltim

Melalui program pembinaan keterampilan ini, Lapas Kelas IIA Samarinda berharap warga binaan memiliki bekal yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.

“Harapan saya, setelah warga binaan selesai menjalani masa pidananya, mereka tidak kembali lagi ke lapas. Mereka memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup setelah bebas. Saya juga berharap kemampuan tersebut terus berkembang sehingga mereka dapat berbaur kembali dengan masyarakat secara positif, produktif, dan memiliki peluang usaha atau pekerjaan yang lebih baik di masa depan,” pungkas Gunawan.

Penulis: ManEditor: Nng