Kemasi Liu yang Saya Kenal: Di Balik Perjuangan Seorang Ketua Kelompok Tani Busang Dengen

Jurnalis Nunung Dwi Astutik saat menjenguk Ketua Kelompok Tani Busang Dengen di salah satu Rumah Sakit di Samarinda.

SAMARINDA.nusantaranews.info–Profesi saya sebagai jurnalis memberi kesempatan untuk mendampingi dan mengawal berbagai perkara hukum yang menjerat Ketua Kelompok Tani Busang Dengen, Kemasi Liu.

Dari perjalanan itu, saya memiliki kesempatan mengenal sosoknya lebih dekat. Tulisan ini murni merupakan pengalaman pribadi saya selama menyaksikan perjalanan panjang perjuangannya dan mengenal sisi dirinya yang mungkin tidak banyak diketahui masyarakat.

Sudah beberapa tahun saya mengikuti perjalanan hukum yang dialami Kemasi Liu. Saya melihat bagaimana satu demi satu proses hukum dijalaninya, mulai dari perkara pidana yang pernah membuatnya kehilangan kebebasan, berbagai laporan yang ia tempuh setelah bebas, hingga sengketa hukum yang masih terus berlangsung sampai hari ini.

Tidak sedikit orang yang mengenalnya hanya dari pemberitaan, putusan pengadilan, atau berbagai opini yang berkembang di tengah masyarakat.

Baru-baru ini, nama Kemasi Liu kembali menjadi perhatian publik dirinya kembali di fitnah setelah dilaporkan atas dugaan tindak pidana pencurian oleh pihak yang menjadi lawannya dalam konflik hukum, yakni salah satu perusahaan sawit di Kutai Timur, PT SWP.

Sementara itu, Kemasi Liu membantah tuduhan tersebut dan berpendapat bahwa laporan itu berkaitan dengan konflik hukum yang telah berlangsung lama dan mereka kembali berupaya menjatuhkannya dengan membuat skenario atas dirinya yang kita ketahui selama ini belum menyerah  dan terus mencari keadilan karena ia meyakini dalam posisi yang benar.

Terlepas dari proses hukum yang sedang berjalan, saya memilih melihat sosok beliau dari pengalaman saya mengenalnya secara langsung.

Pertama kali mengenalnya, kesan saya justru tidak terlalu baik. Beliau adalah pribadi yang sangat pendiam. Cara berbicaranya singkat, datar, dan tidak pandai berbasa-basi. Bahkan saya pernah berpikir beliau adalah orang yang cuek dan kurang menghargai orang lain.

Baca Juga  Enam Warga Samarinda Ulu Terima Bantuan UMKM (Untuk Mustahik ke Muzaki) dari BAZNAS Samarinda

Perasaan itu muncul karena saya sering menghubunginya, tetapi telepon saya tidak diangkat. Bahkan dalam kondisi tertentu saya bisa menelepon berkali-kali tanpa mendapatkan jawaban. Saat itu saya merasa kesal dan berpikir beliau sengaja mengabaikan saya.

Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa anggapan saya ternyata keliru. Saya menyadari bahwa ketika beliau sedang menghadapi persoalan besar atau memikirkan langkah hukum yang harus ditempuh, beliau memang memilih diam.

Ia membutuhkan ruang untuk menyendiri, menenangkan pikiran, dan mencari solusi. Bukan karena tidak menghargai orang lain, melainkan karena begitulah caranya dalam menghadapi tekanan hidup.

Perkara hukum yang dihadapinya bukanlah persoalan ringan. Bertahun-tahun beliau harus menjalani berbagai proses hukum yang menguras tenaga, waktu, dan pikirannya.

Dalam situasi seperti itu, saya melihat ia lebih banyak memendam semuanya sendiri. Sangat jarang saya melihatnya mengeluh kepada orang lain.

Yang membuat saya kagum, di balik beban yang begitu berat, beliau tetap berusaha menjalani hidup dengan tenang. Dirinya pandai menyembunyikan kesedihan, kecemasan, bahkan kepanikannya.

Di depan banyak orang, beliau selalu berusaha terlihat baik-baik saja, seolah tidak sedang menghadapi masalah apa pun. Padahal saya tahu ada begitu banyak hal yang sedang dipikirkannya.

Di balik sikapnya yang terlihat dingin, saya justru mengenal sosok yang sangat penyayang, memang bukan tipe orang yang pandai mengucapkan kata-kata manis. Namun perhatian itu selalu hadir melalui tindakan-tindakan sederhana.

Hampir setiap kali bertemu atau berkomunikasi, beliau selalu memastikan keadaan saya. Beliau sering bertanya, “Sudah makan?” atau “Uangnya masih cukup buat makan atau transport?” Bagi sebagian orang mungkin pertanyaan itu terdengar biasa. Namun bagi saya, perhatian seperti itu sangat menyentuh.

Baca Juga  Polresta Samarinda Ungkap Kasus Penganiayaan Berat Berujung Tewas di Samarinda Seberang

Di tengah persoalan yang sedang dihadapinya, beliau masih menyempatkan diri memikirkan apakah orang-orang di sekitarnya baik-baik saja.

Memiliki hobi memasak. Saya beberapa kali menikmati masakan buatannya. Bahkan beliau dengan sabar mengajari saya memasak makanan khas Dayak. Bagi saya, momen-momen sederhana seperti itulah yang membuat hubungan kami terasa seperti keluarga.

Ada satu hal yang membuat saya semakin memahaminya. Ucapan dan tindakannya sering kali berbeda. Kadang beliau mengatakan sesuatu yang terkesan tidak peduli. Namun ketika saya melihat tindakannya, justru sebaliknya.

Saya belajar bahwa tidak semua orang pandai mengungkapkan kasih sayang melalui kata-kata. Ada yang memilih menunjukkannya lewat kepedulian dan tindakan nyata.

Saya sendiri pernah berada di masa yang sangat sulit. Saat itu pikiran saya labil. Banyak persoalan datang bersamaan dan membuat emosi saya tidak terkendali. Bahkan saya beberapa kali meluapkan kemarahan kepada beliau.

Kata-kata yang saya ucapkan saat itu tidak pantas dan sebenarnya bukan karena kesalahannya, melainkan karena saya sedang kecewa dengan keadaan hidup saya sendiri.

Yang membuat saya terharu, beliau tidak pernah membalas kemarahan saya, tidak pernah meninggikan suara. Bahkan ketika kami bertemu keesokan harinya,ia tetap bersikap seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun.

Dari situlah saya belajar bahwa memaafkan tanpa mengungkit kembali adalah bentuk kebesaran hati yang tidak semua orang miliki.

Semakin lama mengenal beliau, saya semakin memahami bahwa hidup telah menempa karakternya menjadi pribadi yang kuat. Mungkin itulah sebabnya beliau lebih memilih diam daripada mengeluh, lebih memilih menahan rasa sakit daripada menunjukkannya kepada orang lain.

Kini saya memahami bahwa dirinya sedang fokus menghadapi proses hukum yang masih berjalan. Karena itu saya memilih untuk tidak terlalu sering menghubunginya.

Baca Juga  Sidang Sengketa Lahan PM Noor Kembali Bergulir, Kuasa Hukum Pelawan Soroti Kejanggalan Keterangan Saksi

Saya juga menyadari bahwa sikap saya yang terkadang masih kekanak-kanakan bisa mengganggu konsentrasinya.

Memberikan ruang adalah bentuk penghormatan yang bisa saya lakukan agar beliau dapat fokus menjalani setiap proses yang sedang dihadapi.

Tepat di hari ulang tahun saya, 8 Agustus, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mungkin selama ini belum pernah saya ungkapkan.

Terima kasih, Pak Kemasi Liu. Terima kasih telah hadir di salah satu masa tersulit dalam hidup saya. Terima kasih atas kesabaran yang luar biasa, atas perhatian-perhatian kecil yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat berarti bagi saya ketika saya sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.

Bagi saya, Pak Kemasi Liu adalah sosok yang tidak mudah menyerah. Meski kondisi kesehatannya kerap menurun dan berbagai pandangan negatif terus mengiringinya, beliau tetap menjalankan perannya sebagai Ketua Kelompok Tani Busang Dengen dan terus memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai hak para anggotanya melalui jalur hukum.

Saya hanya berharap setiap proses yang dijalaninya dapat memberikan keadilan dan kepastian hukum.

Penulis: Nng