Momentum Hari Keluarga, Ismail Latisi Ajak Orang Tua Bangun Quality Time Bersama Anak

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi,S.Pd.

SAMARINDA.nusantaranews.info — Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi,S.Pd menyoroti pentingnya peran keluarga dalam mencegah berbagai persoalan sosial, mulai dari stunting, bullying, narkoba hingga krisis karakter anak di era digital. Hal itu disampaikannya dalam momentum Hari Keluarga Internasional dan peringatan Hari Perpustakaan pada Jum’at 15/05/2026.

Menurutnya, keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak yang tidak dapat digantikan oleh institusi mana pun. Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter, mental, hingga tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kedekatan emosional antara orang tua dan anak.

“Kalau kita berbicara tentang anak, maka peran keluarga menjadi yang utama. Keluarga itu madrasah pertama bagi anak,” ujarnya.

Ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah fenomena fatherless dan motherless, di mana orang tua hadir secara fisik namun tidak benar-benar hadir secara emosional karena sibuk dengan urusan masing-masing, termasuk penggunaan handphone.

Baca Juga  Komisi III DPRD Samarinda Ingin Pasar Segiri Ditata Lebih Terarah

“Bapaknya ada, ibunya ada, tetapi sibuk dengan handphone masing-masing. Akhirnya anak tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup,” katanya.

Menurut Ismail, kondisi tersebut dapat memicu berbagai persoalan sosial. Anak yang merasa kurang mendapatkan cinta di rumah akan mencari perhatian di luar lingkungan keluarga.

“Kalau yang didapat di luar itu positif, alhamdulillah. Tapi banyak juga yang justru terjerumus ke hal-hal negatif seperti narkoba, kriminalitas, hingga pergaulan yang salah,” jelasnya.

Ia pun mengingatkan para orang tua untuk mulai meluangkan waktu berkualitas bersama anak. Salah satunya dengan menerapkan waktu tanpa handphone saat berkumpul bersama keluarga.

“Minimal saat makan bersama jangan pegang handphone. Gunakan waktu itu untuk ngobrol dan mendengar cerita anak,” ucapnya.

Selain isu keluarga, Ismail juga menyinggung rendahnya budaya literasi masyarakat Indonesia dalam momentum Hari Perpustakaan. Ia menilai masyarakat saat ini lebih banyak mengonsumsi informasi singkat di media sosial dibanding membaca buku.

Baca Juga  Dukung Pengembangan Potensi Alam, DPRD Samarinda dan DPRD Gowa Jalin Kerjasama

“Media sosial itu memberikan apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita butuhkan. Karena algoritma hanya menyajikan apa yang sering kita lihat,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat sulit melihat sudut pandang lain karena terbiasa menerima informasi yang seragam. Karena itu, ia menilai buku tetap menjadi sumber pengetahuan yang tidak tergantikan.

“Tidak ada yang bisa menggantikan buku. Negara-negara maju seperti Jepang dan Finlandia juga mulai kembali menggunakan buku cetak untuk memperkuat budaya literasi,” ujarnya.

Ia berharap setiap keluarga memiliki perpustakaan mini di rumah agar anak-anak terbiasa membaca sejak dini.

“Hendaknya setiap keluarga punya perpustakaan kecil di rumah. Dari situlah wawasan anak berkembang dan mereka menjadi lebih bijak serta toleran,” tuturnya.

Kepada para pustakawan dan pengelola perpustakaan di Samarinda, Ismail juga mendorong adanya inovasi agar perpustakaan menjadi tempat yang nyaman dan menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Baca Juga  Banmus DPRD Samarinda Bahas Agenda Mei dan Sinkronisasi Raperda dengan Pemkot

“Perpustakaan jangan terkesan kaku dan membosankan. Harus ada kreativitas supaya anak-anak mau datang dan betah membaca,” katanya.

Ia juga mendukung kebijakan perpustakaan yang tetap buka pada malam hari atau hari libur agar masyarakat yang sibuk bekerja tetap memiliki kesempatan untuk datang membaca dan mencari referensi.

Penulis: Nng