SAMARINDA, nusantaranews.info – Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi momentum memperkuat peran pesantren dalam mencetak generasi yang menguasai ilmu agama dan keterampilan untuk menghadapi tantangan zaman.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Samarinda, Drs. H. Nasrun, M.H., mengatakan pesantren berperan penting dalam membentuk karakter dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) santri.
Menurut Nasrun, pembinaan pesantren berada langsung di bawah Kementerian Agama. Karena itu, dukungan terhadap pesantren perlu disesuaikan dengan kewenangan masing-masing instansi, termasuk pemerintah daerah.
“Pesantren itu merupakan lembaga pendidikan yang pembinaannya berada langsung di bawah Kementerian Agama,” ujarnya kepada nusantaranews.info.
Ia mengatakan komitmen pemerintah terhadap pengembangan pesantren terus diperkuat melalui Direktorat Jenderal yang khusus menangani pesantren dan Undang-Undang Pesantren sebagai landasan pengembangan.
Pemerintah juga mengakui pendidikan pesantren melalui sistem penyetaraan pendidikan muadalah. Dengan demikian, lulusan pesantren memiliki ijazah yang setara dengan pendidikan formal sesuai ketentuan.
Selain itu, pemerintah mendukung pengembangan ekonomi kreatif pesantren melalui program inkubasi.
“Pemerintah memiliki perhatian yang serius kepada pesantren karena memang secara rutin memberikan bantuan, terutama untuk pengembangan ekonomi kreatif melalui dana-dana inkubasi,” jelasnya.
Santri Didorong Memiliki Keterampilan dan Jiwa Wirausaha
Nasrun menegaskan, pendidikan pesantren tidak hanya berfokus pada pendalaman ilmu agama atau tafaqquh fiddin, tetapi juga perlu membekali santri dengan keterampilan.
Ia mengatakan setiap pesantren memiliki karakteristik berbeda, mulai dari pesantren tradisional yang berfokus pada kajian kitab kuning dan hafalan Al-Qur’an, pesantren modern, hingga pesantren kombinasi yang memadukan pendidikan agama dan formal.
Karena itu, pengembangan pesantren perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lembaga, termasuk sarana prasarana dan kualitas tenaga pendidik.
“Kami mendorong lulusan pesantren tidak hanya fakih dalam hal ilmu agama, tetapi juga diharapkan mampu menjawab tantangan zaman,” katanya.
Sejumlah pesantren, lanjutnya, mulai mengembangkan keterampilan tambahan seperti pertanian, kewirausahaan, dan pelatihan soft skill. Bekal itu diharapkan membantu santri beradaptasi dengan berbagai bidang pekerjaan dan berkontribusi di masyarakat.
“Anak-anak pada saatnya nanti keluar dari pesantren tidak semuanya menjadi kiai. Ada juga yang menjadi tokoh masyarakat. Nah, ini kita bekali dengan keterampilan,” ungkapnya.
Nasrun menilai peluang lulusan pesantren melanjutkan pendidikan semakin terbuka. Berbagai perguruan tinggi telah menerima lulusan pesantren melalui jalur sesuai ketentuan masing-masing institusi.
Ia berharap santri tumbuh menjadi generasi yang beriman, bertakwa, berkarakter baik, serta memiliki kemampuan dan daya saing.
Libatkan Ribuan Santri dalam Peringatan HSN
Dalam rangka Hari Santri Nasional 2026, Kemenag Kota Samarinda menggelar sejumlah kegiatan yang melibatkan ribuan santri.
Nasrun mengapresiasi dukungan pendanaan l Wali Kota Samarinda sehingga rangkaian kegiatan dapat terlaksana.
Pada 15 Oktober 2026, digelar senam santri berhadiah yang melibatkan sekitar 1.500 santri. Selanjutnya, pada 22 Oktober 2026, dilaksanakan upacara peringatan Hari Santri Nasional dengan sekitar 2.500 undangan, yang dilanjutkan dengan kenduri santri.
Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut terlaksana melalui kerja sama berbagai pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan dan insan pers.
“Alhamdulillah, ini kolaborasi yang baik dengan teman-teman semua, termasuk ormas-ormas. Saya juga berterima kasih kepada teman-teman pers yang telah mendukung kegiatan ini,” tuturnya.
Nasrun berharap Hari Santri Nasional tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi pengingat pentingnya memperkuat pendidikan pesantren untuk melahirkan generasi yang berakhlak, berilmu, terampil, dan siap menghadapi perkembangan zaman.













