KUTAI KARTANEGARA, nusantaranews.info – Anggota DPRD Kalimantan Timur, Firnadi Ikhsan, resmi membuka Festival Jembayan Kampong Tuha (FJKT) ke-6 yang digelar di Situs Cagar Budaya Dusun Pemarangan, RT 01, Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, pada Sabtu (12/7/2025). Festival tahunan yang digelar sejak 2019 ini turut dirangkaikan dengan peringatan Hari Jadi Desa Jembayan ke-390, yang dikenal sebagai salah satu desa tertua dan penuh nilai historis dalam perjalanan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Dalam sambutannya, Firnadi menekankan pentingnya menjadikan budaya sebagai bagian strategis dalam proses pembangunan daerah, terlebih Kalimantan Timur kini tengah bersiap menyambut peran sebagai kawasan penyangga Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Ia menyebut pelestarian budaya bukan sekadar menjaga peninggalan sejarah, melainkan juga bagian dari pembentukan jati diri daerah.
“Festival ini menjadi cermin kebangkitan budaya lokal sebagai kekuatan yang menyatu dengan pembangunan nasional. Dari akar sejarah, kita menumbuhkan harapan baru,” ujar Firnadi.
Kegiatan pembukaan diawali dengan ziarah ke makam Aji Pangeran Sinom Panji Mendapatkan ing Martapura, Raja Kutai Kartanegara ke-8 yang pernah memerintah dari pusat pemerintahan lama di wilayah Pamarangan, sebelum dipindahkan oleh Sultan Aji Muslihudin ke Tepian Pandan (sekarang Tenggarong). Ziarah ini menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah kerajaan dan nilai-nilai budaya lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.
Turut hadir dalam pembukaan antara lain Tokoh Adat Kesultanan Kutai, Awang Yacoub Luthman, perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara, Plt Sekcam Loa Kulu, serta jajaran Polres dan Kodim. Sejumlah kepala desa, lembaga adat, pelaku seni budaya, serta ratusan warga juga memadati area kegiatan, menandakan antusiasme dan dukungan luas terhadap pelestarian budaya di desa Jembayan.
Festival Jembayan Kampong Tuha ke-6 menyuguhkan rangkaian kegiatan budaya dan ekonomi kreatif yang digerakkan masyarakat, di antaranya pawai pembangunan desa, pertunjukan seni tradisional Kutai, atraksi budaya lintas etnis, hingga bazar produk UMKM lokal dan kuliner khas. Acara akan berlangsung hingga 15 Juli 2025, sekaligus menjadi sarana promosi wisata berbasis budaya dan pemberdayaan ekonomi warga.
Firnadi menyatakan dukungannya untuk menjadikan festival ini sebagai agenda resmi budaya provinsi, bahkan menargetkannya masuk dalam kalender kegiatan nasional. Ia menilai festival ini merepresentasikan karakter asli masyarakat Kalimantan Timur yang menjunjung tinggi gotong royong, musyawarah, dan kekuatan komunitas.
“Gotong royong adalah budaya. Dan dari sinilah semangat membangun bangsa dimulai. Mari jadikan budaya sebagai fondasi kokoh menuju masa depan,” tambahnya.
Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap pemajuan kebudayaan, panitia juga mengundang Menteri Kebudayaan Republik Indonesia untuk hadir dan membuka secara simbolis festival ini, serta bersilaturahmi langsung dengan komunitas adat di Kalimantan Timur.
Festival Jembayan Kampong Tuha menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat desa dapat menjaga warisan leluhur sekaligus menciptakan ruang kreatif untuk masa depan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.













