Semarak HUT RI ke-81, SDN 007 Sungai Pinang Gelar Lomba Jajanan Tradisional

Kepala SDN 007 Sungai Pinang, Tumi Hariani, S.Pd., M.Psi., menghampiri peserta lomba saat berkreasi menghias jajanan tradisional dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di gedung serbaguna sekolah, Kamis (20/8/2026).

SAMARINDA, nusantaranews.info  – Suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung meriah di SDN 007 Sungai Pinang, Samarinda. Beragam jajanan tradisional disulap menjadi kreasi menarik dalam lomba menghias kue tradisional yang digelar Kamis (20/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di gedung serbaguna sekolah tersebut melibatkan orang tua/wali murid, guru, dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Lomba mengusung tema “Jajanan Tradisional Nusantara Merajut Kebersamaan, Menguatkan Semangat Kemerdekaan.”

Kepala SDN 007 Sungai Pinang, Tumi Hariani, S.Pd., M.Psi, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan. Lomba juga dirancang untuk memperkuat kebersamaan dan semangat gotong royong antara sekolah, orang tua, serta mahasiswa KKN.

“Saya sangat bangga karena orang tua sangat antusias. Kerja sama antara guru, orang tua, dan mahasiswa sudah terlihat nyata. Kolaborasinya luar biasa,” kata Tumi.

Menurut Tumi, keterbatasan anggaran maupun hadiah tidak mengurangi kemeriahan kegiatan. Justru, kreativitas peserta menunjukkan bahwa kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan kegiatan.

Baca Juga  Forum Satunusa dari Warga Nahdliyyin Dukung Seno Aji Sebagai Cawagub Kaltim 2024

“Walaupun dengan dana yang terbatas dan hadiah yang sederhana, hasilnya luar biasa karena kerja samanya terlihat. Semoga kebersamaan ini terus terjaga dan berkembang ke depannya,” ujarnya.

Ada hal menarik dalam lomba tersebut. Kreasi yang dibuat peserta tidak menggunakan nasi sebagai bahan utama tumpeng. Berbagai jajanan tradisional seperti kue, singkong, tepung, dan beras ketan disusun serta dihias menjadi sajian bernuansa kemerdekaan.

“Kalau sekarang membuat tumpeng tidak harus menggunakan nasi. Beraneka ragam makanan ternyata bisa dibuat menjadi tumpeng,” jelasnya.

Tumi menyebut kegiatan itu juga memiliki nilai pendidikan bagi siswa. Melalui keterlibatan berbagai pihak, siswa dapat melihat langsung praktik kebersamaan, gotong royong, saling menghargai, dan nasionalisme.

“Maknanya saling menghargai dan rasa nasionalisme terpupuk. Hubungan antara anak dan semua pihak juga insyaallah semakin erat,” tuturnya.

Sementara itu, Humas SDN 007 Sungai Pinang, Mus’adil Walid, S.Pd, menjelaskan lomba digelar untuk menumbuhkan kreativitas sekaligus melestarikan keberagaman jajanan tradisional Indonesia.

“Lomba ini menjadi ajang untuk menumbuhkan kreativitas, mempererat silaturahmi, serta melestarikan kuliner tradisional Indonesia,” kata Walid.

Baca Juga  Tim Pammat Ditsamapta Polda Kaltim Sigap Bantu Pemadaman Kebakaran Hotel di Balikpapan

Total terdapat 10 kelompok yang mengikuti lomba. Enam kelompok merupakan perwakilan paguyuban orang tua/wali murid dari kelas 1 hingga kelas 6. Kemudian tiga kelompok berasal dari dewan guru berdasarkan Fase A, B, dan C. Satu kelompok lainnya merupakan perwakilan mahasiswa KKN dari Universitas Mulawarman dan Widya Gama.

Setiap kelompok diberi waktu 45 menit untuk menyelesaikan kreasi di lokasi lomba. Jenis jajanan yang digunakan dibebaskan, dengan ketentuan dekorasi menggunakan bahan yang aman dan dapat dimakan.

Penilaian dilakukan berdasarkan kesesuaian tema sebesar 30 persen, kreativitas dan inovasi 25 persen, kerapian 20 persen, keindahan penyajian 15 persen, serta kekompakan tim 10 persen.

Dewan juri berasal dari unsur Dinas Pendidikan, Kecamatan, Kelurahan, organisasi, dan kepala sekolah. Penilaian tersebut sekaligus menempatkan kekompakan dan gotong royong sebagai bagian penting dalam kegiatan.

Tumi mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat, khususnya orang tua, guru, mahasiswa KKN, dan masyarakat yang telah mendukung kegiatan.

Baca Juga  IKA Unhas Samarinda Salurkan 160 Paket Sembako Usai Pelantikan Pengurus

“Terima kasih kepada masyarakat, orang tua, dan mahasiswa yang telah melaksanakan kegiatan ini. Saya juga bangga dengan guru-guru saya karena apa yang diprogramkan selalu dilaksanakan dengan baik,” katanya.

Dia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, kegiatan bersama seperti lomba jajanan tradisional dapat menjadi sarana memperkuat hubungan antara sekolah, keluarga, mahasiswa, dan siswa.

“Mudah-mudahan lomba seperti ini ke depannya semakin dipererat dan diperbanyak lagi,” pungkas Tumi.

Penulis: manEditor: nng