SAMARINDA, nusantaranews.info– Semarak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa di SDN 007 Sungai Pinang Kota Samarinda. Memeriahkan momentum kemerdekaan, sekolah menggelar rangkaian perlombaan yang melibatkan siswa, orang tua murid, paguyuban hingga para guru.
Rangkaian lomba berlangsung sejak 11 hingga 13 Agustus 2026. Beragam perlombaan disiapkan, mulai dari permainan tradisional, lomba kekompakan, hingga ajang unjuk bakat siswa.
Untuk siswa, lomba tradisional di antaranya lomba karung, ketapel, enggrang, balogo dan sandal bakiak. Sementara lomba lainnya meliputi estafet sarung, karet sedotan, make up tutup mata serta joget balon.
Tidak hanya permainan, SDN 007 Sungai Pinang juga menggelar lomba bakat yang mencakup fashion show, azan, kaligrafi, qori dan qoriah, tahfidz, bertutur atau mendongeng, menyanyi, menulis, spelling bee hingga pantomim.
Peserta lomba berasal dari siswa kelas 1 hingga 6, paguyuban, orang tua murid dan guru.
Humas SDN 007 Sungai Pinang, Mus’Adil Walid, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia sekaligus penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan.
“Yang jelas kita melaksanakan kegiatan lomba ini salah satu bentuk rasa syukur kita, rasa terima kasih kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa, telah memberikan kemerdekaan, terkait juga perjuangan para pahlawan dalam bentuk lomba tradisional ataupun bakat,” ujarnya.

Menurutnya, antusiasme peserta tahun ini sangat tinggi. Namun, pelaksanaan kegiatan harus menyesuaikan dengan agenda sekolah lainnya.
“Antusias peserta luar biasa. Cuma waktunya saja yang kita kurang karena terkait kegiatan di luar. Antusiasmenya luar biasa,” katanya.
Mus’Adil menjelaskan, pelaksanaan lomba dilakukan melalui tahapan yang terstruktur. Panitia terlebih dahulu menyampaikan informasi dan juknis perlombaan, membuka pendaftaran melalui Google Form maupun secara langsung, kemudian dilanjutkan dengan perlombaan dan penjurian.
Untuk siswa, peserta dibagi berdasarkan jenjang kelas rendah dan kelas tinggi. Kelas 1, 2 dan 3 masuk kategori kelas rendah, sedangkan kelas 4, 5 dan 6 masuk kategori kelas tinggi.
“Jadi mereka tidak berbenturan dan mendapatkan juara masing-masing,” jelasnya.
Sementara bagi orang tua, setiap paguyuban kelas mengirimkan perwakilan untuk mengikuti perlombaan. Para pemenang kemudian kembali berkompetisi pada tahap berikutnya hingga babak final, termasuk berhadapan dengan perwakilan guru.
Untuk hadiah, siswa yang menjadi juara mendapatkan alat tulis atau ATK, serta piala dan sertifikat. Sementara hadiah bagi orang tua berupa peralatan kebersihan yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kelas.
Pembagian hadiah lomba bakat telah dilakukan pada 17 Agustus 2026. Sedangkan hadiah untuk lomba tradisional, paguyuban, orang tua dan guru akan dibagikan pada Kamis (20/8/2026).

Kepala SDN 007 Sungai Pinang, Tumi Hariani, S.Pd., M.P.Si., menilai kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan. Lebih dari itu, momentum kemerdekaan menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dan orang tua.
“Saya sangat terharu dengan kolaborasi sekolah dengan orang tua. Betapa semangatnya untuk memeriahkan 17 Agustus 2026, yaitu usia 81 tahun kemerdekaan,” ungkap Tumi.
Ia mengaku terdorong ikut berpartisipasi setelah melihat antusiasme para orang tua.
“Orang tua saja antusias, kenapa kita enggak? Itu yang mendorong saya juga harus ikut berpartisipasi, ikut perlombaan yang diadakan antara orang tua dan guru. Bagaimana kita menjalin orang tua, masyarakat dan sekolah. Ternyata sudah terbukti,” tuturnya.
Menurut Tumi, keseruan lomba juga memberikan pelajaran tentang pentingnya kerja sama. Salah satunya terlihat dalam lomba estafet sarung yang menuntut peserta menjaga kekompakan.
“Apalagi tadi lomba sarung. Tangannya tidak boleh bergerak. Di situlah kita harus memang kerja sama itu harus terwujud. Kenapa? Karena tidak saling melepaskan tangan,” katanya.
Meski kelompoknya tidak menjadi pemenang, Tumi menilai kemenangan bukan tujuan utama.
“Kalah menang itu istilahnya menang suatu kelebihan, kalah suatu keseruan. Jadi dalam pertandingan ini, apalagi memeriahkan hari kemerdekaan, tidak ada menang dan kalah. Tetapi sportivitas dan kejujuran kita,” tegasnya.
Tumi menyebut terdapat perubahan dalam pelaksanaan lomba tahun ini. Jika sebelumnya keterlibatan orang tua hanya sekitar 30 persen, tahun ini partisipasinya jauh lebih tinggi karena sistem perlombaan dilakukan berdasarkan fase dan perwakilan masing-masing kelas.
“Orang tua luar biasa. Saya salut betul,” ujarnya.
Bagi Tumi, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI juga menjadi momentum menanamkan nasionalisme kepada peserta didik.
“Maknanya kita harus mempererat kebersamaan, memperkuat persatuan. Tidak perlu hadiahnya terlalu mahal. Tetapi anak-anak kita ajarkan rasa nasionalisme, bagaimana orang berjuang dulu,” jelasnya.
Ia berharap keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan sekolah terus terjaga. Menurutnya, hubungan yang harmonis antara orang tua, masyarakat dan sekolah akan memperkuat dukungan terhadap berbagai program pendidikan.
“Kalau hubungan harmonis antara orang tua, masyarakat dan sekolah itu sudah harmonis, otomatis insyaallah program sekolah apa pun pasti didukung,” katanya.
Di sisi lain, Tumi menilai tantangan pendidikan saat ini juga berkembang seiring kemajuan teknologi. Karena itu, guru dan siswa dituntut mampu beradaptasi dengan era digital.
Ia mencontohkan penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menurutnya menjadi salah satu bentuk adaptasi pendidikan terhadap perkembangan teknologi.
“Sekarang kita zamannya digital. Bagaimana cara mengikuti teknologi, makanya pemerintah sekarang mengadakan ujian digitalisasi. Berarti pola pikir anak juga berkembang,” katanya.
Menurutnya, perkembangan tersebut juga menuntut tenaga pendidik untuk terus mengikuti perubahan zaman dan meningkatkan kemampuan dalam mendampingi siswa.
Rangkaian lomba di SDN 007 Sungai Pinang diharapkan tidak hanya menjadi hiburan dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan, membangun sportivitas dan menanamkan nilai nasionalisme kepada generasi muda.













