SAMARINDA, nusantaranews.info – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN 007 Sungai Pinang, Jalan Jenderal A. Yani, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, resmi berakhir setelah berlangsung selama lima hari. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan ditutup dengan kegiatan mendongeng yang disambut antusias para siswa baru.

Kepala SDN 007 Sungai Pinang, Tumi Hariani, S.Pd., M.Psi, mengatakan penutupan MPLS bukan menjadi akhir dari kegiatan pengenalan sekolah, melainkan awal perjalanan peserta didik dalam menempuh pendidikan di sekolah dasar.
“Alhamdulillah selama MPLS berjalan lima hari hingga penutupan hari ini semuanya berjalan lancar dan diberi kemudahan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya, kepada Tim media nusantaranews.info, Sabtu (18/07/2026).
Pada penutupan MPLS, Tumi Hariani juga menyampaikan pesan kepada seluruh siswa agar terus semangat belajar, menjaga sopan santun, menjaga nama baik sekolah, serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
“Perjuangan kalian tidak cukup di sini, tetapi masih panjang petualangan kalian untuk belajar di SDN 007. Kalian harus rajin belajar, menjaga sopan santun, menjaga nama baik sekolah, dan juga menjaga sekolah,” katanya.
Menurutnya, menjaga sekolah juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap kebersihan. SDN 007 Sungai Pinang memiliki slogan “Sampahku, Tanggung Jawabku” yang terus ditanamkan kepada seluruh peserta didik.
Untuk membangun kebiasaan tersebut, sekolah sengaja menempatkan tempat sampah di satu titik, yakni di samping aula. Cara ini dilakukan agar siswa terbiasa bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.
“Kadang-kadang anak-anak menyimpan dulu sampahnya di kantong karena tempat sampahnya agak jauh. Itu justru melatih mereka agar bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri,” jelasnya.
Selain penguatan karakter, selama MPLS sekolah juga menggelar kegiatan berbagi makan bergizi melalui kerja sama dengan paguyuban orang tua. Dalam kegiatan itu, sekolah menerima bantuan susu sachet dari Foodbank of Indonesia (FOI) yang kemudian diolah menjadi berbagai makanan dan minuman bergizi.
“Antusias orang tua luar biasa. Susu itu kemudian dikreasikan menjadi puding, minuman, dan berbagai makanan lainnya. Itu murni kreativitas dan donasi sukarela dari orang tua, tidak ada pungutan dari sekolah,” ungkap Tumi Hariani.
Selama lima hari pelaksanaan MPLS, siswa juga mendapatkan materi tentang penguatan karakter dan penerapan tujuh kebiasaan baik anak Indonesia hebat sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Upaya pencegahan perundungan atau bullying juga menjadi perhatian serius. Tumi Hariani menegaskan SDN 007 Sungai Pinang telah memiliki tim penanganan perundungan yang dibentuk sejak lama.
“Tim penanganan bullying sudah kami bentuk sejak lama. Saat pembukaan MPLS kemarin kami juga memperdengarkan lagu tentang bullying. Guru-guru menjelaskan kepada anak-anak bahwa di sekolah ini tidak ada yang namanya saling membully karena tujuan kita semua adalah belajar,” tegasnya.
Pada tahun ajaran baru ini, SDN 007 Sungai Pinang menerima 128 siswa baru di kelas I. Sementara jumlah seluruh peserta didik mencapai sekitar 738 siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus (ABK).
Menurut Tumi Hariani, proses daftar ulang secara tatap muka membantu sekolah mengenali kondisi peserta didik sejak awal sehingga penempatan siswa dapat dilakukan lebih tepat dibandingkan saat pendaftaran sepenuhnya dilakukan secara daring.
“Sekarang daftar ulang dilakukan secara tatap muka sehingga kami bisa mengetahui kondisi anak sejak awal. Dulu saat semuanya dilakukan secara online, ada beberapa kondisi yang baru diketahui setelah anak masuk sekolah,” katanya.
Dalam masa transisi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke sekolah dasar, SDN 007 Sungai Pinang akan menerapkan pembelajaran yang lebih banyak dilakukan di luar kelas dengan konsep belajar sambil bermain.
“Anak-anak masih berada pada masa bermain. Karena itu pembelajarannya nanti lebih banyak dilakukan di luar kelas agar mereka senang belajar. Lingkungan sekolah juga sudah kami kenalkan, mulai dari ruang kelas, toilet hingga fasilitas lainnya,” jelasnya.
Tumi Hariani berharap pelaksanaan MPLS menjadi bekal bagi siswa untuk mengenal lingkungan sekolah, membentuk karakter, serta menumbuhkan kemandirian sejak dini.
“Mudah-mudahan dengan adanya MPLS, karakter anak-anak sudah mulai terbentuk. Orang tua kami minta cukup mendampingi selama satu minggu pertama. Setelah itu anak-anak diharapkan sudah berani masuk sekolah sendiri dan dijemput setelah jam pelajaran selesai di depan pagar sekolah,” pungkasnya.













