BALIKPAPAN, nusantaranews.info – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Kalimantan Timur tidak akan berlangsung ekstrem. Fenomena El Nino yang terdeteksi dalam kategori lemah membuat pola cuaca cenderung mengarah pada kemarau basah, sehingga wilayah ini masih berpotensi diguyur hujan hingga Agustus mendatang.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, menjelaskan bahwa periode kemarau di Kaltim sudah mulai sejak April dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus. Meski demikian, intensitas kekeringan diprediksi masih dalam kisaran normal hingga di atas normal.

“Fenomena El Nino tahun ini tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya. Untuk Kalimantan Timur, polanya tidak sepenuhnya kering. Masih ada potensi hujan ringan hingga sedang selama periode April hingga Agustus,” jelas Djoko.
Artinya, meskipun memasuki musim kemarau, peluang turunnya hujan tetap ada, walau dengan frekuensi yang lebih jarang dibanding musim penghujan.
Namun demikian, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi kekurangan air bersih. Kondisi hujan di musim kemarau cenderung tidak optimal dalam mengisi cadangan air tanah, karena air lebih cepat mengalir ke saluran drainase.
Sebagai upaya antisipasi, masyarakat dianjurkan untuk mulai menerapkan metode panen air hujan, yakni menampung air saat hujan turun untuk digunakan pada periode tanpa hujan.
Dengan pola kemarau basah ini, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang diperkirakan sedikit menurun. Meski begitu, kesiapan dalam menjaga ketersediaan air bersih tetap menjadi hal utama yang perlu diperhatikan masyarakat di Kalimantan Timur.













