SAMARINDA, nusantaranews.info – SD Negeri 007 Sungai Pinang yang beralamat di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, mengusung konsep Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah pada Tahun Ajaran 2026/2027.
Sekolah menitikberatkan pada terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik baru, sekaligus memastikan seluruh rangkaian MPLS berlangsung bebas dari praktik perpeloncoan maupun perundungan.

Kepala SDN 007 Sungai Pinang, Tumi Hariani, S.Pd., M.Psi, melalui Wakil Humas Mus’ Adil Walid, S.Pd, mengatakan MPLS tahun ini dirancang untuk memberikan pengalaman pertama yang positif bagi peserta didik dan orang tua.
“Tahun ini kami lebih mengedepankan konsep MPLS ramah. Kami ingin siswa dan orang tua merasa nyaman, merasa diterima, dan senang berada di lingkungan sekolah sejak hari pertama,” ujar Mus’ Adil kepada nusantaranews.info, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan MPLS telah disusun sejak hari pertama hingga penutupan dengan pendekatan yang edukatif dan menyenangkan. Selain pengenalan lingkungan sekolah, siswa juga mengikuti berbagai permainan, kegiatan penguatan karakter, dan aktivitas yang membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan baru.
Ia menjelaskan, siswa kelas I masih berada dalam masa transisi dari PAUD atau taman kanak-kanak menuju sekolah dasar sehingga belum dibebani tuntutan akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung secara penuh.
Untuk memastikan MPLS berlangsung ramah anak dan bebas dari perpeloncoan, seluruh guru melakukan pendampingan secara langsung sejak siswa datang hingga kegiatan sekolah berakhir.

“Guru selalu berada dekat dengan siswa sejak mereka datang sampai pulang sekolah. Kami menanamkan etika, sopan santun, serta membangun kedekatan emosional agar anak-anak merasa nyaman. Guru menjadi orang tua kedua bagi mereka selama berada di sekolah,” katanya.
Selain pengenalan lingkungan sekolah, materi MPLS juga mengacu pada Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program tersebut meliputi kebiasaan tidur tepat waktu, bangun pagi, beribadah, berolahraga, sarapan sebelum berangkat sekolah, membantu orang tua di rumah, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari dengan disiplin.
Sekolah juga memberikan perhatian khusus kepada siswa yang masih takut atau menangis saat memasuki lingkungan sekolah. Selama satu minggu pelaksanaan MPLS, orang tua diperbolehkan mendampingi anak hingga ke dalam lingkungan sekolah maupun sampai depan kelas.
“Kami memberi kesempatan kepada orang tua mendampingi anak selama masa adaptasi. Harapannya anak dapat mengenal guru dan lingkungan sekolah secara bertahap sehingga nantinya siap belajar secara mandiri,” jelasnya.
Sebagai upaya mencegah perundungan sejak dini, SDN 007 Sungai Pinang telah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan sekolah. Selain itu, setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai, guru memberikan penguatan karakter selama sekitar 15 menit.
“Anak-anak diajarkan untuk saling menghargai, menyayangi, menghormati perbedaan, termasuk perbedaan agama. Dengan pembiasaan itu kami berharap potensi perundungan dapat ditekan sejak awal,” ungkap Mus’ Adil.

Dalam bidang literasi, siswa kelas rendah lebih diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berbicara dan berkomunikasi. Mereka diajak memperkenalkan diri, menceritakan keluarga, tempat tinggal, hingga hobi sebagai bagian dari literasi dasar sebelum memasuki pembelajaran yang lebih kompleks.
Sementara itu, pengenalan teknologi lebih difokuskan kepada siswa kelas tinggi agar mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana mencari referensi dan memperkaya pengetahuan.
Mus’ Adil mengungkapkan antusiasme orang tua pada pelaksanaan MPLS tahun ini sangat tinggi. Menurutnya, dukungan keluarga menjadi modal penting dalam membangun sinergi antara sekolah dan orang tua demi perkembangan peserta didik.
“Antusiasme orang tua luar biasa. Kami berkomitmen memberikan pelayanan pendidikan terbaik agar setiap anak dapat berkembang secara optimal, baik dari sisi akademik maupun karakter,” tuturnya.
Saat ini SDN 007 Sungai Pinang memiliki 737 siswa, dengan 128 peserta didik baru yang terbagi dalam empat rombongan belajar. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sehingga sekolah menyiapkan tambahan sarana dan prasarana berupa meja dan kursi belajar agar seluruh siswa tetap nyaman mengikuti pembelajaran.
Selain itu, SDN 007 Sungai Pinang juga telah memasuki tahun ketujuh sebagai sekolah inklusi. Pada tahun ajaran 2026/2027 tercatat tiga peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) yang mengikuti pendidikan di sekolah tersebut.
Sekolah terus berkoordinasi dengan orang tua untuk melakukan identifikasi dini terhadap kebutuhan setiap anak. Jika diperlukan, sekolah juga akan melaksanakan asesmen guna memastikan peserta didik berkebutuhan khusus memperoleh layanan pendidikan yang sesuai.
Melalui konsep MPLS Ramah, SDN 007 Sungai Pinang berharap seluruh peserta didik baru mampu beradaptasi dengan cepat, tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, serta siap mengikuti proses pembelajaran dalam lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif.













