Nunung Dwi Astutik: Ikhlas Dimulai Saat Mampu Mengalahkan Ego

Jurnalis Nunung Dwi Astutik S.I.Kom.

SAMARINDA.nusantaranews.info– Banyak orang menganggap ego identik dengan kesombongan. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, ego sering muncul dalam bentuk keinginan yang ingin selalu dipenuhi. Keinginan itulah yang kerap membuat seseorang sulit menerima kenyataan, terutama ketika menghadapi kehilangan, penolakan, atau hubungan yang tidak berjalan sesuai harapan.

Melalui pengalaman hidup yang pernah dilaluinya, Jurnalis Nunung Dwi Astutik lulusan Ilmu Komunikasi tersebut mengaku mulai memahami bahwa ego sering kali menjadi penyebab seseorang sulit menerima kenyataan dan mengikhlaskan kehilangan.

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa luka tidak selalu muncul karena seseorang pergi, tetapi juga karena keinginan dalam diri yang masih berharap semuanya berjalan sesuai harapan.

Menurut Nunung, ada masa ketika dirinya terus mempertanyakan mengapa seseorang berubah, mengapa memilih pergi, bahkan apa yang salah dari dirinya. Semakin dicari jawabannya, semakin besar pula rasa kecewa yang dirasakan.

Hingga akhirnya ia memahami bahwa yang paling sulit dilawan bukanlah kehilangan itu sendiri, melainkan ego yang terus berharap keadaan kembali seperti semula.

“Tulisan ini lahir dari pengalaman yang pernah saya alami. Saya pernah berada di fase sulit menerima kenyataan dan terus bertanya mengapa seseorang berubah atau memilih pergi. Dari proses itu saya belajar bahwa yang paling sulit dikalahkan bukanlah orang lain, melainkan ego dalam diri sendiri,” terangnya.

Ia menjelaskan, ego tidak selalu terlihat dalam bentuk kesombongan atau merasa paling benar. Ego juga hadir dalam bentuk keinginan untuk selalu dimengerti, diprioritaskan, dipilih, dihargai, dan dicintai sesuai harapan.

Baca Juga  Aksi Kebaikan di Bulan Ramadan: IKM Samarinda Bagikan Takjil di Simpang 4 Lembuswana

“Banyak orang mengira ego itu hanya kesombongan. Padahal, ego juga bisa berupa keinginan yang ingin selalu dipenuhi. Kita ingin dimengerti, diprioritaskan, dipilih, dihargai, dan dicintai sesuai harapan. Ketika harapan itu tidak terwujud, muncullah rasa kecewa, marah, sedih, bahkan sulit menerima kenyataan,” ungkapnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan kajian komunikasi interpersonal yang dikemukakan oleh pakar komunikasi Indonesia Deddy Mulyana. Dalam kajian komunikasi, hubungan antarmanusia dipengaruhi oleh persepsi, harapan, dan cara seseorang memaknai perilaku orang lain.

Ketika harapan yang dibangun tidak sesuai dengan kenyataan, kekecewaan dan konflik dalam hubungan lebih mudah muncul.

Nunung mengatakan, banyak orang tanpa sadar membangun harapan yang terlalu besar terhadap orang yang dicintainya. Mereka berharap selalu menjadi prioritas, selalu diberi perhatian, selalu dihubungi, dan selalu dipilih dalam setiap keadaan. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, hati mulai dipenuhi rasa kecewa yang perlahan berubah menjadi luka.

Menurutnya, ego juga membuat seseorang ingin mengendalikan sikap dan keputusan orang lain. Seseorang berharap pasangannya berubah sesuai keinginannya, padahal setiap manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.

“Ego membuat kita ingin mengatur keadaan sesuai keinginan sendiri. Kita berharap orang lain berubah demi kebahagiaan kita. Padahal, kita tidak pernah bisa mengendalikan hati maupun keputusan seseorang. Yang bisa kita kendalikan hanyalah diri kita sendiri,” jelasnya.

Baca Juga  Terbentuknya Kerukunan Adat Dayak Kenyah

Ia menambahkan, ego sering kali membuat seseorang sulit menerima perpisahan. Tidak sedikit orang yang terus mencari alasan mengapa ditinggalkan, menyalahkan diri sendiri, bahkan rela kehilangan harga diri demi mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah tidak lagi sehat.

Selain itu, ego juga muncul dalam bentuk harapan agar setiap perhatian, waktu, tenaga, dan kasih sayang yang telah diberikan harus dibalas dengan perlakuan yang sama. Saat kenyataan tidak sesuai dengan harapan, rasa kecewa pun semakin mendalam.

“Saya belajar bahwa memberi kasih sayang bukan berarti kita berhak memiliki seseorang. Tidak semua kebaikan yang kita berikan akan dibalas dengan cara yang sama. Saat kita memahami itu, hati akan lebih mudah menerima kenyataan, meskipun tetap terasa menyakitkan,” katanya.

Meski demikian, Nunung menegaskan bahwa tidak semua rasa sakit berasal dari ego. Menurutnya, sedih karena kehilangan, kecewa karena dikhianati, atau terluka akibat diperlakukan tidak baik merupakan reaksi yang wajar.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika rasa sakit membuat seseorang terus hidup dalam penolakan, memaksakan kehendak, atau mengejar seseorang yang sudah memilih pergi.

Ia menilai, proses mengikhlaskan bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dalam semalam. Dibutuhkan waktu, penerimaan, dan keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri.

Ikhlas bukan berarti tidak menangis atau tidak merasa sedih. Ikhlas adalah menerima kenyataan tanpa terus memaksakan kehendak. Kita boleh mencintai seseorang, tetapi jangan sampai kehilangan harga diri hanya karena takut ditinggalkan,”jelasnya.

Baca Juga  Kawal Aksi 21 April, Polda Kaltim Utamakan Pendekatan Persuasif

Di akhir keterangannya, Nunung berharap pengalamannya dapat menjadi pengingat bahwa setiap orang pasti memiliki ujian hidup masing-masing. Menurutnya, luka tidak harus menjadi akhir dari perjalanan, tetapi bisa menjadi awal untuk mengenal diri sendiri dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.

“Pengalaman hidup mengajarkan saya bahwa luka bisa menjadi guru terbaik. Ketika kita berhenti memaksakan apa yang bukan menjadi bagian kita, hati akan jauh lebih tenang. Kita belajar menerima, memperbaiki diri, dan percaya bahwa setiap peristiwa membawa pelajaran. Saat ego mulai terkendali, keikhlasan akan tumbuh dan kita bisa melangkah tanpa terus dibebani luka masa lalu,” tutup Jurnalis Nunung Dwi Astutik.