SAMARINDA.nusantaranews.info – Karang Taruna Generasi Muda Purwodadi (Gempur) Kelurahan Lempake, Samarinda, berhasil menghadirkan inovasi model ekonomi hijau berbasis agroekologi, teknologi biochar, dan sistem GreenSCOR. Program ini diarahkan untuk menjawab tantangan besar dalam mewujudkan ketahanan pangan dan pakan berkelanjutan bagi masyarakat, sekaligus mendorong kemandirian ekonomi pemuda.

Masyarakat Lempake, khususnya Karang Taruna Gempur, memiliki potensi besar dalam bidang pertanian, perikanan, dan UMKM. Namun, terdapat sejumlah tantangan serius yang dihadapi, antara lain:
- Tingginya biaya pakan ikan dan pupuk, yang menjadi beban besar bagi pembudidaya ikan.
- Kualitas air kolam menurun akibat limbah, sehingga produktivitas budidaya ikan rendah.
- Keterbatasan akses teknologi produksi seperti mesin pellet dan sistem pengeringan modern.
- Belum optimalnya pengelolaan limbah organik, biomassa, serta limbah UMKM.
- Kurangnya pengetahuan dan inovasi tentang penerapan teknologi biochar dan sistem agroekologi.


Permasalahan ini mendorong Karang Taruna Gempur bersama mitra untuk mencari solusi inovatif yang ramah lingkungan, ekonomis, sekaligus meningkatkan kemandirian komunitas.
Solusi dan Inovasi yang Diterapkan
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, Karang Taruna Gempur menerapkan konsep ekonomi hijau dengan sejumlah langkah strategis:
- Produksi Pakan Mandiri
- Melatih ±50 anggota Karang Taruna memproduksi pakan alternatif dari limbah organik (ampas tahu, dedak, jagung, mie, daun pepaya, dan ikan).
- Kapasitas produksi mencapai ±300 kg/bulan.
- Biaya produksi lebih hemat 60–70% dibanding pakan komersial.
- Penerapan Teknologi Biochar
- Menghasilkan ±100–200 kg biochar per bulan.
- Menurunkan kadar amonia air kolam hingga 55% dan meningkatkan kesuburan tanah.
- Digunakan sebagai pupuk organik dan filter alami untuk kualitas air kolam.
- Kolam Terintegrasi (Aquaponik)
- Memadukan budidaya ikan dengan tanaman pertanian organik.
- Produktivitas ikan naik ±20%, dengan kualitas air lebih stabil.
- Implementasi GreenSCOR
- Sistem manajemen distribusi berbasis digital yang efisien dan hemat biaya.
- Efisiensi distribusi meningkat 30–40%, biaya logistik turun 20%.


Hasil dan Dampak Program
Hasil implementasi program ekonomi hijau ini membawa dampak signifikan, baik secara teknis maupun sosial-ekonomi:
- Kapasitas produksi meningkat, pakan mandiri mencapai 300 kg/bulan, biochar 100–200 kg/bulan.
- Penghematan biaya produksi 60–70%, sehingga daya saing produk lokal meningkat.
- Kapasitas 50 anggota Karang Taruna meningkat, dengan terbentuknya unit usaha komunitas berbasis wirausaha hijau.
- Margin keuntungan usaha naik Rp4,4 juta per siklus 3 bulan, setara skala budidaya 3.000 ekor ikan.
- Produk pakan, biochar, dan hasil pertanian mulai dipasarkan di lokal Samarinda.

Kendala yang Masih Dihadapi
Meskipun hasilnya positif, Karang Taruna Gempur masih menghadapi sejumlah kendala, di antaranya:
- Keterbatasan alat produksi modern, seperti mesin pellet, mesin pengering, dan sistem digital distribusi.
- Minimnya modal kerja untuk memperbesar kapasitas produksi.
- Rendahnya literasi digital anggota untuk mengoptimalkan sistem GreenSCOR.

Rencana Tindak Lanjut
Untuk memperkuat keberlanjutan program, Karang Taruna Gempur menyusun rencana tindak lanjut, yaitu:
- Meningkatkan kapasitas produksi pakan mandiri hingga 500 kg/bulan.
- Mengembangkan model bisnis koperasi berbasis ekonomi hijau.
- Mengintegrasikan biochar dalam pertanian dan perikanan skala luas.
- Menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah dan swasta untuk memperkuat rantai pasok.
Program ini membuktikan bahwa integrasi agroekologi, biochar, dan GreenSCOR dapat menjadi solusi nyata untuk ketahanan pangan dan pakan berkelanjutan. Selain memberikan dampak teknis berupa peningkatan produktivitas dan efisiensi, program ini juga berhasil melahirkan wirausaha hijau berbasis komunitas yang membuka lapangan kerja baru, mengurangi ketergantungan pada pakan komersial, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Dengan hasil tersebut, model ekonomi hijau Karang Taruna Gempur dinilai layak untuk direplikasi di wilayah lain sebagai strategi mendukung SDGs 2 (Zero Hunger), SDGs 8 (Decent Work & Economic Growth), dan SDGs 12 (Responsible Consumption & Production).













