SAMARINDA, nusantaranews.info – Suasana penuh kebersamaan menyelimuti Langgar Al-Falah di Jalan Muso Salim, Kota Samarinda, Kamis (25/6/2026). Dalam rangka memperingati 10 Muharam 1448 Hijriah, ratusan warga, pengendara, hingga pejalan kaki tampak antusias mengantre untuk mendapatkan bubur Asyura yang dibagikan secara gratis.

Tradisi memasak dan membagikan bubur Asyura di Langgar Al-Falah telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi agenda tahunan setiap memasuki 10 Muharam. Selain menjadi simbol kebersamaan, kegiatan ini juga menjadi wujud kepedulian sosial melalui budaya berbagi kepada sesama.
Sejak pagi, pengurus langgar bersama masyarakat bergotong royong menyiapkan bubur Asyura. Sebanyak lebih dari 215 kilogram beras dimasak bersama santan, aneka sayuran, serta rempah-rempah pilihan menggunakan tungku kayu yang memberikan cita rasa khas pada bubur tersebut.

Setelah dimasak selama kurang lebih dua jam, bubur Asyura kemudian dipindahkan ke lokasi pembagian. Para ibu dan remaja Langgar Al-Falah dengan penuh semangat melayani masyarakat yang telah mengantre sejak waktu ashar.

Ketua Langgar Al-Falah, Mohammad Bin Alwi Assegaf, mengatakan tradisi memasak bubur Asyura bukan sekadar budaya yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga mengandung nilai-nilai syariat Islam berupa sedekah dan berbagi kepada sesama.
“Tradisi ini kami niatkan semata-mata mencari rida Allah SWT. Bubur Asyura menjadi simbol kebersamaan dan berbagi. Kami meyakini kegiatan ini mengikuti jejak para nabi, khususnya kisah Nabi Nuh AS yang mengumpulkan berbagai bahan makanan untuk kemudian dimasak bersama. Intinya adalah memperbanyak sedekah dan berbagi kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan seperti berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam, bersedekah, serta mempererat kepedulian terhadap sesama.
“Hari Asyura adalah momentum memperbanyak amal kebaikan. Kami berharap kegiatan ini menjadi ladang ibadah sekaligus memperkuat semangat berbagi di tengah masyarakat,” tambahnya.

Ia mengungkapkan, antusiasme masyarakat tahun ini meningkat tajam. Jika pada tahun sebelumnya hanya memasak sekitar 150 kilogram beras, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 215 hingga 230 kilogram.
“Alhamdulillah, tahun ini masyarakat yang datang jauh lebih banyak. Karena itu jumlah beras yang dimasak juga kami tambah agar semakin banyak warga yang bisa menikmati bubur Asyura,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Langgar Al-Falah, Hanafiah, mengatakan peningkatan jumlah produksi bubur Asyura dilakukan karena tingginya minat masyarakat yang selalu menantikan tradisi tersebut setiap tahunnya.
“Tahun lalu kami memasak sekitar 150 kilogram beras, sedangkan tahun ini mencapai 215 kilogram. Ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap bubur Asyura Langgar Al-Falah terus meningkat,” ujarnya.
Hanafiah menjelaskan, cita rasa bubur Asyura Langgar Al-Falah memiliki kekhasan tersendiri karena menggunakan racikan rempah-rempah yang kuat serta berisi tujuh jenis bahan, yakni kentang, jagung, wortel, kacang polong, kacang kedelai, kacang tanah, dan bayam.
Proses memasak dilakukan menggunakan lima kawah besar dengan kapasitas sekitar 32 kilogram setiap sekali masak dan melibatkan pengurus PHBI Langgar Al-Falah serta para remaja langgar secara bergotong royong.
“Harapan kami sederhana, semoga masyarakat dapat menikmati hidangan ini dengan penuh keberkahan. Bagi yang menjalankan puasa Asyura, semoga bisa berbuka dengan bubur Asyura dari Langgar Al-Falah dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT,” tuturnya.
Tradisi berbagi bubur Asyura di Langgar Al-Falah tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Tahun Baru Islam, tetapi juga menjadi simbol kuatnya nilai gotong royong, kepedulian sosial, serta semangat menjaga warisan budaya Islam yang terus hidup di tengah masyarakat Kota Samarinda.













