Sinergi ITS dan Damkar Samarinda Gelar Sosialisasi Penanganan Ular Berbisa, Tekankan Keselamatan Relawan

ITS dan Disdamkar Samarinda menggelar sosialisasi penanganan ular berbisa bagi relawan dan petugas Kamis 02/04/2026.

SAMARINDA.nusantaranews.info — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Samarinda menggelar sosialisasi penanganan ular berbisa bagi relawan dan petugas, sebagai upaya meningkatkan keselamatan dalam penanganan satwa berbahaya.

Kegiatan ini digagas oleh Info Taruna Samarinda (ITS) bersama Damkar, serta turut dihadiri perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur. Sosialisasi juga menghadirkan narasumber ahli dari Kementerian Kesehatan, Tri Maharani, yang memberikan edukasi terkait jenis-jenis ular berbisa hingga penanganan korban gigitan ular.

Kepala Disdamkarmat Samarinda, Hendra AH, mengatakan sosialisasi ini sangat penting, terutama bagi relawan yang kerap terlibat langsung dalam penanganan hewan berbahaya.

“Materi yang disampaikan sangat lengkap, mulai dari jenis ular berbahaya seperti kobra dan king kobra, hingga penanganan korban dan penggunaan serum anti bisa ular,” terangnya.

Ia menjelaskan, antusiasme peserta cukup tinggi. Sekitar 70 relawan hadir dan mengikuti kegiatan dengan serius karena materi yang disampaikan dinilai sangat dibutuhkan di lapangan.

Baca Juga  Warkhatun Najidah: Tanggapan Terhadap Pencalonan Kembali Bupati Kukar Edi Damansyah di Pilkada Kutai Kartanegara 2024

Hal ini tidak lepas dari kejadian beberapa waktu lalu, di mana seorang relawan mengalami gigitan ular saat melakukan penanganan.

“Dari kejadian itu, diketahui bahwa pemberian serum anti bisa tidak bisa sembarangan. Harus sesuai dengan jenis bisa ular, dan itu tidak semua tersedia di rumah sakit,” jelasnya.

Menurut Hendra, serum anti bisa ular saat ini hanya tersedia di Dinas Kesehatan Provinsi. Sehingga, jika terjadi kasus gigitan, rumah sakit harus berkoordinasi dengan Dinkes Provinsi Kalimantan Timur.

Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya prosedur keselamatan dalam penanganan ular. Salah satu kesalahan yang kerap terjadi adalah tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) yang memadai.

“Kesalahan kemarin karena tidak menggunakan APD lengkap, seperti sarung tangan tebal dan alat khusus seperti snake stick atau grab stick. Ular ditangani langsung dengan tangan, itu sangat berbahaya,” tegasnya.

Baca Juga  Tongkang Indosukses 28 Tabrak Jembatan Mahakam, Empat Tug Boat Dikerahkan

Ia menambahkan, penanganan hewan berbahaya seperti ular, tawon, biawak hingga kalajengking merupakan bagian dari tugas Damkar dalam 14 jenis penyelamatan (rescue), khususnya animal rescue.

Meski relawan juga dapat membantu, Hendra mengingatkan agar tetap berkoordinasi dengan Damkar dan tidak bertindak sendiri tanpa perlengkapan yang memadai.

“Relawan boleh membantu, tapi harus kerja sama dengan Damkar. Jangan bertindak sendiri, apalagi tanpa perlengkapan lengkap,” ujarnya.

Terkait kasus gigitan ular di Samarinda, Hendra mengaku belum memiliki data lengkap, namun kasus yang menimpa relawan baru-baru ini menjadi perhatian serius.

Sebagai imbauan kepada masyarakat, ia meminta agar tidak mencoba menangani ular secara mandiri.

“Kalau melihat ular, jangan panik. Segera hubungi Damkar. Bisa kirim foto ular melalui WhatsApp call center kami, nanti petugas langsung bergerak,” katanya.

Baca Juga  Karang Taruna Gempur Samarinda Kembangkan Model Ekonomi Hijau Untuk Ketahanan Pangan Dan Pakan Berkelanjutan

Ia juga menyarankan agar masyarakat mengosongkan area terlebih dahulu jika ular berada di dalam rumah.

“Kalau di dalam kamar, tutup pintunya supaya ular tidak keluar, lalu tunggu petugas datang. Biasanya tidak sampai lima menit kami sudah di lokasi,” pungkasnya

Penulis: Nng