Kutim  

Festival Sekerat Nusantara V Ditutup, Bupati Kutim Ajak Jaga Tradisi dan Alam

Festival budaya di Bengalon menjadi ruang pelestarian adat Kutai sekaligus memperkuat identitas budaya dan kelestarian lingkungan.

Festival Sekerat Nusantara V Kutai Timur
Festival Sekerat Nusantara V Kutai Timur (prokompim)

BENGALON.nusantaranews.info – Semangat menjaga warisan budaya kembali mengemuka dalam penutupan Festival Sekerat Nusantara V yang dirangkai dengan Pesta Adat Belian Semegah dan prosesi adat Mengulur Naga di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Sabtu (12/07/2026).

Selama sepekan, festival tersebut menjadi wadah pertemuan tradisi, seni, dan kebersamaan masyarakat sekaligus mempertegas komitmen pelestarian budaya di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Penutupan festival dihadiri Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Sultan Aji Muhammad Arifin yang diwakili Pangeran Hario Noto Negoro, unsur Forkopimda, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur dan DPRD Kutim, perangkat daerah, camat, kepala desa, tokoh adat, tokoh agama, pimpinan perusahaan, hingga ribuan masyarakat yang memadati lokasi kegiatan.

Festival yang berlangsung sejak 6 Juli 2026 itu menghadirkan berbagai agenda budaya dan ekonomi kreatif, mulai dari pameran UMKM, bazar produk lokal, permainan tradisional, lomba menyumpit, pertunjukan seni budaya, hingga prosesi adat Mengulur Naga yang menjadi puncak acara. Tradisi tersebut merupakan simbol kebersamaan, gotong royong, dan persatuan masyarakat Desa Sekerat yang diwariskan secara turun-temurun.

Ketua Panitia Festival Sekerat Nusantara V, Muhammad Yafi Akbar, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana berkat dukungan pemerintah daerah, lembaga adat, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat yang bergotong royong menyukseskan festival.

Baca Juga  Kapal Pemancing Tenggelam di Kutai Timur, 5 Orang Tewas, 2 Selamat

“Festival ini diharapkan terus berkembang dan menjadi kebanggaan Kutai Timur, bahkan dikenal di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi serta memohon maaf apabila masih terdapat kekurangan selama pelaksanaan kegiatan.

Sementara itu, Pangeran Hario Noto Negoro yang mewakili Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memberikan penghargaan kepada masyarakat Desa Sekerat yang dinilai konsisten menjaga tradisi hingga festival memasuki penyelenggaraan kelima.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak dapat dipisahkan dari akar budaya masyarakat. Nilai-nilai adat menjadi fondasi agar pembangunan berlangsung harmonis, kehidupan masyarakat tetap rukun, dan iklim investasi berkembang dalam suasana yang kondusif.

“Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi fondasi pembangunan masa depan. Ketika adat dijaga, karakter masyarakat akan tetap kokoh dan pembangunan memiliki arah yang jelas,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan filosofi prosesi adat yang berkaitan dengan kisah Putri Karang Melenu sebagai bagian dari sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Ia menekankan pentingnya empat pilar kehidupan masyarakat, yakni adat, adab, berbudaya, dan beragama, sebagai landasan membangun karakter masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga  Sengketa Lahan: Gugatan Kelompok Tani Busang Dengen Masuki Tahap Peninjauan Setempat

Selain mengajak seluruh elemen masyarakat terus bersinergi melestarikan budaya, Kesultanan Kutai juga mengumumkan rencana pelaksanaan Festival Erau di Tenggarong mulai 20 September hingga akhir Desember 2026, serta Erau Tijak Tanah di Kutai Timur yang direncanakan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kutai Timur pada 12 Oktober mendatang.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menegaskan keberlangsungan ritual adat seperti Mengulur Naga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya daerah. Menurutnya, saat ini baru Desa Sekerat di Kecamatan Bengalon dan Desa Marukangan di Kecamatan Sandaran yang secara rutin menggelar ritual adat Kutai setiap tahun.

“Pemerintah memberikan penghargaan kepada desa-desa yang tetap mempertahankan tradisi leluhur. Ke depan kami berharap semakin banyak kecamatan yang menghidupkan kembali ritual adat sebagai bagian dari pelestarian budaya Kutai,” ujar Ardiansyah.

Ia menambahkan, pemerintah daerah terus memperkuat kelembagaan adat melalui pembentukan majelis adat dan pemangku adat di berbagai wilayah sebagai upaya menjaga kesinambungan nilai budaya di tengah perkembangan zaman.

Ardiansyah juga mengaitkan pelestarian budaya dengan upaya mendukung kawasan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai kawasan bernilai sejarah dan budaya dunia. Menurutnya, keberadaan situs-situs purbakala di kawasan tersebut menunjukkan bahwa Kutai Timur memiliki kekayaan sejarah yang harus dijaga bersama.

Baca Juga  Dimas Ingatkan Konfercab IX GMNI Kutim Jaga Semangat Persatuan

Selain pelestarian budaya, Bupati mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan, terutama di wilayah yang berkembang sebagai kawasan industri pertambangan dan manufaktur.

“Alam boleh dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi jangan sampai dirusak. Kelestarian lingkungan adalah syarat utama pembangunan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Di akhir acara, Ardiansyah secara resmi menutup rangkaian Festival Sekerat Nusantara V dan Pesta Adat Belian Semegah. Ia berharap Desa Sekerat tetap menjadi contoh dalam menjaga tradisi leluhur sekaligus melestarikan lingkungan sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.