Di Balik Keputusan Melepas Hijab, Jurnalis Nunung Dwi Astutik Jalani Proses Pemulihan Diri

Nunung Dwi Astutik sebelah kanan bersama sahabatnya jurnalis saat melaksanakan tugas peliputan.

SAMARINDA, nusantaranews.info – Di balik senyum yang kerap ditampilkan, Nunung Dwi Astutik mengaku sedang menjalani salah satu fase paling berat dalam hidupnya.

Berbagai pengalaman yang menurut pengakuannya terjadi dalam perjalanan spiritual meninggalkan luka batin yang hingga kini masih berusaha ia pulihkan.

Menurut Nunung, masa-masa tersebut membuatnya harus berhadapan dengan rasa takut, kebingungan, dan trauma. Ia mengaku membutuhkan waktu untuk menerima apa yang telah terjadi sekaligus menata kembali kehidupannya.

“Saya telah melalui banyak perjalanan spiritual yang bagi saya sangat berat. Ada pengalaman-pengalaman yang membuat saya takut dan trauma. Sampai hari ini saya masih berusaha memulihkan diri,” ujar Nunung.

Di tengah proses pemulihan tersebut, Nunung mengaku sempat merasa benar-benar sendiri. Ketika dirinya sedang berusaha bangkit dari masa-masa sulit, ia justru merasa banyak orang memilih menjauh. Kondisi itu membuatnya merasa kehilangan tempat untuk berbagi cerita dan menghadapi berbagai persoalan seorang diri.

“Ketika saya berada di masa yang sulit, saya merasa banyak yang meninggalkan saya. Rasanya seperti tidak punya siapa-siapa. Dari situlah saya belajar bahwa pada akhirnya saya harus menguatkan diri sendiri,” tuturnya.

Meski demikian, Nunung mengaku masih memiliki sahabat-sahabat yang tetap hadir memberikan dukungan. Baginya, kehadiran mereka menjadi penguat untuk tetap bertahan dan menjalani proses pemulihan.

“Bagaimanapun, saya masih bersyukur karena ada sahabat-sahabat yang tetap mendukung saya. Mereka tidak menghakimi, tetapi memilih mendengarkan, memberi semangat, dan mengingatkan saya untuk terus bangkit, dukungan mereka sangat berarti bagi saya di saat sedang berusaha memulihkan diri,” katanya.

Dalam proses pencarian ketenangan tersebut, Nunung mengambil keputusan untuk tidak lagi mengenakan hijab, meski sebelumnya hijab telah menjadi bagian dari hidupnya yang ia jaga selama bertahun-tahun. Menurutnya, keputusan tersebut bukan diambil secara tiba-tiba, melainkan setelah melalui banyak pertimbangan dan pengalaman hidup yang tidak mudah.

Baca Juga  Wagub Kaltim Seno Aji Tekankan Pentingnya Konsolidasi Kader Gerindra di Momen Idul Adha

“Saya menjaga hijab itu selama bertahun-tahun. Jadi, keputusan untuk melepasnya bukan keputusan yang mudah, ada banyak pertimbangan dan pengalaman hidup yang membawa saya pada titik ini. Saya tidak membenci agama ataupun nilai-nilai yang pernah saya pelajari. Saat ini saya hanya sedang berusaha memulihkan diri,” ungkapnya.

Keputusan tersebut memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat terutama keluarga.

Nunung mengaku banyak menerima pesan pribadi yang berisi teguran, nasihat, serta ajakan untuk kembali mengenakan hijab. Ia memahami bahwa setiap orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap keputusan yang diambilnya.

Namun, ia berharap perbedaan pandangan tidak berubah menjadi penghakiman. Menurutnya, tidak semua orang mengetahui perjalanan hidup dan pengalaman yang sedang dihadapi seseorang.

“Memang ketika seseorang sedang berada dalam fase seperti ini, banyak yang akhirnya berpikir negatif. Saya tidak bisa mengendalikan penilaian orang lain. Saya hanya berharap mereka tidak terburu-buru menghakimi, karena mereka tidak mengetahui sepenuhnya apa yang telah saya lalui. Saya sedang berjuang memulihkan diri, bukan mencari pembenaran atas keputusan yang saya ambil,” ujarnya.

Meski menghadapi berbagai penilaian, Nunung memilih untuk tidak larut dalam kesedihan. Ia menjadikan pengalaman hidup tersebut sebagai titik balik untuk membangun kembali dirinya.

Bagi Nunung, meng-upgrade diri berarti memperbaiki kualitas diri secara menyeluruh. Ia ingin menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih matang dalam menyikapi kehidupan, dan lebih berani menghadapi tantangan. Saat ini, ia mulai mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan yang memberikan energi positif melalui hobi yang telah lama dicintainya, yaitu menulis, menyukai musik Bollywood,serta dunia modeling.

Baginya, hobi-hobi tersebut bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu, tetapi juga menjadi ruang untuk mengekspresikan diri, membangun kembali rasa percaya diri, dan menjaga semangat agar tetap positif selama menjalani proses pemulihan.

Baca Juga  Keanehan dalam Sidang Kasus Jual Beli Buldoser di Pengadilan Negeri Samarinda

Di balik berbagai proses yang sedang dijalaninya, Nunung juga tetap berupaya membangun karier sebagai seorang jurnalis. Kecintaannya pada dunia jurnalistik mendorongnya merintis sebuah perusahaan media sebagai wadah untuk berkarya dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Meski perusahaan media yang dirintisnya masih berskala kecil dan berada dalam tahap pengembangan, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan berkembang.

Menurut Nunung, setiap pencapaian besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten, penuh dedikasi, dan komitmen untuk menjaga profesionalisme.

Menurutnya, dunia jurnalistik bukan hanya menjadi profesi, tetapi juga ruang untuk menyuarakan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat serta memberikan kontribusi positif melalui karya-karya yang dihasilkan.

Di bidang akademik, Nunung juga memilih untuk terus melangkah. Setelah menyelesaikan studi Magister (S2) Ilmu Komunikasi, ia telah mendaftarkan diri untuk melanjutkan pendidikan di bidang hukum di Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Baginya, pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk memperluas wawasan dan mempersiapkan masa depan.

Terkait lepas hijab ia menyadari bahwa dirinya merupakan lulusan dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Ia mengaku hal tersebut menghadirkan tanggung jawab moral yang besar dalam setiap langkah yang diambilnya.

“Ini bukan keputusan yang ringan. Saya menyadari ada tanggung jawab moral sebagai lulusan UINSI Samarinda. Saya memahami akan ada orang yang kecewa atau tidak sependapat dengan saya. Namun saya memilih jujur terhadap kondisi yang sedang saya alami daripada berpura-pura semuanya baik-baik saja,” tuturnya.

Meski demikian, Nunung berharap kisah hidupnya tidak dipahami sebagai ajakan agar orang lain mengikuti pilihan hidupnya. Ia hanya ingin mereka memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan, ujian, dan proses pemulihan yang berbeda.

Baca Juga  Ratusan Warga Antre Nikmati Bubur Asyura, Langgar Al-Falah Masak Hingga 215 Kilogram Pada Peringatan 10 Muharam

“Saya tidak meminta semua orang setuju dengan keputusan saya. Saya hanya berharap kita bisa saling menghormati dan tidak mudah menghakimi seseorang tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang ia hadapi. Kadang seseorang terlihat baik-baik saja, padahal sedang berjuang menghadapi luka yang tidak terlihat,” katanya.

Menutup pernyataannya, Nunung mengatakan seluruh ikhtiar yang sedang dijalaninya selalu diiringi dengan doa. Baginya, membangun perusahaan media, mengembangkan hobi, melanjutkan pendidikan, serta terus memperbaiki diri merupakan bentuk usaha sebagai manusia, sementara hasil akhirnya tetap ia serahkan kepada Tuhan.

“Tentu semua itu saya iringi dengan doa. Saya berharap Tuhan memberikan kesehatan, kekuatan, ketenangan hati, serta kemudahan dalam setiap langkah hidup saya. Saya ingin terus belajar, bertumbuh, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Saya percaya setiap ujian akan membawa hikmah pada waktunya,” tutupnya.

Kini, Nunung memilih menatap masa depan dengan harapan baru. Ia ingin dikenal bukan karena masa-masa sulit yang pernah dilaluinya, melainkan karena keberaniannya untuk bangkit, terus belajar, berkarya melalui dunia jurnalistik, mengembangkan potensi diri, dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur.