Dosen FEBI IAIN Langsa Dorong Limbah Pascabanjir Jadi Peluang Ekonomi Berbasis Green Economy

Dosen FEBI IAIN Langsa bersama peserta berfoto usai pelatihan pemanfaatan limbah pascabanjir menjadi produk bernilai ekonomi di Kota Langsa, Rabu (9/9/2026).

ACEH, nusantaranews.info – Banjir tidak hanya meninggalkan persoalan bagi masyarakat. Tumpukan limbah yang tersisa setelah bencana juga dapat menjadi masalah baru apabila tidak dikelola dengan baik.

Namun, di balik persoalan tersebut, terdapat peluang yang bisa dikembangkan menjadi kegiatan produktif dan bernilai ekonomi.

Hal inilah yang menjadi perhatian dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Langsa melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Transformasi Limbah Pascabanjir Menjadi Produk Bernilai Tambah melalui Pelatihan Eco-Entrepreneurship Berbasis Nilai-nilai Syariah untuk Mewujudkan Green Economy dan Kemandirian Ekonomi Masyarakat”.

Kegiatan yang diikuti para pelaku UMKM Kota Langsa tersebut digelar pada Rabu (9/9/2026) pagi, di salah satu aula kafe di Kota Langsa.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Zikriatul Ulya, Shelly Midesia dan Rafiza Zuliani.

Panitia pelaksana, Zikriatul Ulya mengatakan, kegiatan pengabdian tersebut berfokus pada pemanfaatan limbah sawit pascabanjir. Menurutnya, limbah pascabanjir jangan sampai hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan. Dengan inovasi dan keterampilan, limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat.

“Jadi, kegiatan ini sebenarnya fokus untuk pemanfaatan limbah, Jangan sampai pascabanjir, sampah jadi persoalan baru dilingkungan kita, dan ini tugas kita supaya bisa menjadi nilai,” jelasnya.

Bencana Harus Melahirkan Perubahan

Baca Juga  Teror KKB Berlanjut di Intan Jaya: Sipil Tewas Ditembak, Satgas Damai Cartenz Siaga Penuh

Dekan FEBI IAIN Langsa, Muhammad Amin, dalam sambutannya mengatakan, kondisi pascabencana harus mendorong masyarakat untuk membangun cara pandang baru.

Menurutnya, bencana tidak semestinya membuat masyarakat berhenti dan terpuruk. Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi momentum untuk bangkit, berinovasi dan menata kehidupan menjadi lebih baik.

“Artinya, masyarakat perlu membangun cara pandang baru terhadap kondisi pascabencana, karena dibalik bencana ada hikmah dan peluang untuk perubahan dan menata hidup menjadi lebih baik,” tegasnya.

Ia menekankan, melihat limbah sebagai peluang ekonomi bukan berarti mensyukuri musibah. Sebaliknya, masyarakat harus segera bangkit setelah bencana dengan menciptakan inovasi serta kegiatan yang produktif dan memberikan manfaat.

“Jadi, Kita berharap kegiatan ini memberikan manfaat dan menghasilkan produk yang bernilai bagi masyarakat. Makanya, saya sangat berharap bagi peserta untuk mengikuti kegiatan ini dengan benar-benar fokus,” tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris LPPM IAIN Langsa, Noviandi, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak cukup hanya berhenti pada penyampaian ilmu pengetahuan.

Menurutnya, ilmu yang diberikan dalam kegiatan pengabdian harus mampu diterapkan hingga menghasilkan keterampilan maupun produk yang bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

“Harapan kita, jangan sampai terhenti penyampaian pengetahuan saja, akan tetapi, mampu menghasilkan keterampilan dan produk yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” terangnya.

Baca Juga  Pemerintah Bangun Industri Metanol di Jatim-Kaltim

Ia menambahkan, transformasi ilmu pengetahuan dalam paradigma pengabdian kepada masyarakat semestinya dapat diwujudkan dalam bentuk produk maupun solusi yang aplikatif.

Setidaknya, apapun bentuk pengelolaan dan apa saja yang dihasilkan dari kondisi pascabanjir, harus dapat diarahkan menjadi sebuah produk yang memiliki nilai.

“Sebenarnya, yang menjadi salah satu perhatiannya adalah, pemanfaatan limbah harus tetap berorientasi pada nilai-nilai syariat, sehingga aktivitas ekonomi yang dikembangkan tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga harus dipertimbangkan soal kemaslahatan manusia dan kelestarian alam,” jelasnya.

Limbah Tak Lagi Dipandang Sebagai Sisa

Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari tersebut diisi oleh dua pemateri. Dr. Rita Sari menyampaikan materi “Dari Limbah Pascabanjir Menjadi Peluang Ekonomi: Eco-Entrepreneurship Berbasis Nilai-Nilai Syariah”.

Sementara Shelly Midesia menyampaikan materi “Transformasi Limbah Pascabanjir Menjadi Produk Bernilai Tambah melalui Pelatihan Eco-Entrepreneurship Berbasis Nilai-Nilai Syariah untuk Mewujudkan Green Economy dan Kemandirian Ekonomi Masyarakat.”

Pelatihan tersebut diarahkan untuk membangun pola pikir kewirausahaan yang memadukan aspek ekonomi, lingkungan dan nilai-nilai syariah. Selama ini, limbah cenderung dipandang sebagai sesuatu yang tersisa dan menjadi persoalan lingkungan.

Melalui kegiatan tersebut, paradigma itu coba diubah. Limbah didorong untuk diolah menjadi bahan yang berguna sekaligus memiliki nilai jual.

Baca Juga  Kapolda Papua Ungkap Penangkapan Jaringan Penyelundupan Senjata ke KKB di Puncak Jaya

FEBI IAIN Langsa berharap, kegiatan ini dapat melahirkan berbagai inovasi pengolahan limbah yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Tidak hanya membantu mengurangi persoalan lingkungan, inovasi tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang usaha baru sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Upaya tersebut sejalan dengan sejumlah kegiatan yang selama ini telah dijalankan FEBI IAIN Langsa dalam pengembangan konsep green economy.

Di antaranya melalui pembuatan briket dari limbah sawit serta budidaya jamur dengan memanfaatkan tandan kosong (tankos) sawit.

Dengan demikian, limbah tidak lagi sekadar dipandang sebagai sisa yang harus dibuang, tetapi dapat menjadi bagian dari solusi lingkungan sekaligus sumber peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Penulis: manEditor: nng