Puluhan WBP Lapas Kelas IIA Samarinda Ikuti Pelatihan Khatib, Siapkan Diri Jadi Pembimbing Umat

ket. foto: Seorang warga binaan Lapas Kelas IIA Samarinda menyampaikan khutbah di Masjid At-Taubah dalam rangkaian pelatihan khatib, Sabtu (9/8/2025)

SAMARINDA, nusantaranews.info – Suasana Masjid At-Taubah Lapas Kelas IIA Samarinda, Sabtu (9/8/2025), terasa khidmat. Sebanyak 40 warga binaan pemasyarakatan (WBP) berkumpul mengikuti pelatihan khatib, sebuah program pembinaan keagamaan yang rutin digelar untuk membekali mereka dengan kemampuan berkhutbah, pidato, dan membaca Al-Qur’an.

Kasi Binadik Lapas Kelas IIA Samarinda, Pariadi, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan belajar, tetapi juga sarana menumbuhkan kepercayaan diri para WBP.

“Kami ingin mereka berani tampil di depan teman-temannya, dan kelak setelah bebas, bisa menjadi khatib di masyarakat. Pesan kami kepada masyarakat, percayalah pada WBP yang telah dibina. Ini sudah tahap ketiga, dan setelah pelatihan biasanya ada penampilan langsung dari peserta,” ujarnya.

Baca Juga  Prof. Jiuhardi, Ketua Umum Kerukunan Dayak Kenyah Kaltim Dukung Perdamaian Israel-Palestina & Relokasi 2 Juta Warga Gaza

Pariadi menambahkan, pelatihan ini menjadi bagian penting dari program pembinaan rutin yang diharapkan mampu mengubah perilaku WBP. “Harapan kami sederhana: setelah bebas, mereka bisa menjadi warga yang baik, diterima masyarakat, dan bermanfaat,” lanjutnya.

Muhammad Ali, salah satu peserta, mengaku termotivasi mengikuti pelatihan ini.

“Pertama kali ikut, saya belajar banyak. Bahkan sudah berkesempatan tampil di masjid, saling mengingatkan dan memberi masukan dengan teman-teman. Tema khutbah saya tentang berbakti kepada orang tua. Harapannya, saya bisa terus berbuat baik di sini hingga saat bebas nanti,” ungkapnya.

Menariknya, pelatihan ini juga melibatkan pendidik internal dari sesama WBP. Imam Tohiq, salah satu pembina dari “blok santri”, mengapresiasi keseriusan pihak lapas.

Baca Juga  Sahur On The Road 2025: ITS Bagikan Ribuan Porsi Sahur untuk Warga Samarinda

“Programnya sama persis seperti di pesantren. Di sini WBP diwajibkan shalat, mengaji setiap hari, belajar khutbah, pidato, qori, dan lainnya. Banyak yang awalnya tidak bisa shalat, mengaji, atau membaca kitab, sekarang bisa. Alhamdulillah, seperti keluar dari pesantren,” ujarnya penuh syukur.

Imam berharap program ini semakin dikembangkan sehingga WBP yang bebas kelak tidak hanya memiliki keterampilan kerja, tetapi juga kemampuan membimbing masyarakat di bidang agama.

“Mungkin dulu mereka dipandang sebelah mata. Tapi nanti bisa jadi ustaz dan motivator di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Melalui pembinaan seperti ini, Lapas Kelas IIA Samarinda berupaya membekali WBP dengan ilmu, akhlak, dan keterampilan agar kelak mereka benar-benar siap menjadi bagian positif dari lingkungan yang akan mereka masuki kembali.