Kaltim  

Kekeringan Ancam Ketahanan Pangan, Petani Kecil Jadi Kelompok Paling Rentan

SAMARINDA, nusantaranewsinfo – Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino menjadi perhatian serius bagi sektor pertanian Indonesia. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap produksi pangan sekaligus kehidupan ekonomi jutaan rumah tangga petani.

Dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda, Asiah Wati, menilai kekeringan pada 2026 tidak seharusnya hanya dipandang sebagai persoalan cuaca, tetapi juga sebagai ancaman terhadap ketahanan pangan nasional.

Dalam tulisannya, Asiah menyebut kondisi El Nino pada 2026 berpotensi menyebabkan musim kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut bahkan diperkirakan dapat berlanjut hingga awal 2027 dan berpotensi diperburuk oleh kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Menurut Asiah, dampak kekeringan mulai terlihat pada sektor pertanian. Puncak kekeringan diproyeksikan terjadi pada Agustus 2026, sementara hampir separuh zona musim di Indonesia disebut berada dalam kategori potensi kekeringan tinggi.

Tak hanya tanaman pangan, sektor perkebunan juga ikut terdampak. Produksi kopi nasional dalam tulisan tersebut disebut mengalami penurunan dari sekitar 742 ribu ton pada 2025 menjadi sekitar 682 ribu ton pada 2026.

“Kekeringan tidak pandang bulu. Ia menyerang tanaman pangan sekaligus tanaman perkebunan, sawah irigasi maupun lahan tadah hujan,” tulis Asiah.

Petani Kecil Paling Rentan

Asiah menyoroti kondisi petani kecil yang dinilai menjadi kelompok paling rentan ketika kekeringan berlangsung panjang.

Baca Juga  Optimalisasi Layanan BPJS Kesehatan di Kalimantan Timur: Sorotan Anggota DPRD terhadap Keseimbangan Iuran dan Kualitas Pelayanan

Sebagian besar sistem pertanian masih bergantung pada ketersediaan air hujan. Ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, produktivitas lahan dapat terganggu dalam waktu relatif singkat.

Petani dengan modal terbatas juga dinilai menghadapi kesulitan untuk menyediakan sarana pengairan secara mandiri, seperti sumur bor maupun pompa air.

Berdasarkan pengalamannya dalam kegiatan pengabdian masyarakat, Asiah menyebut masih terdapat petani yang mengandalkan cara-cara tradisional dalam membaca musim. Di sisi lain, pola cuaca dinilai telah mengalami perubahan sehingga tidak selalu sesuai dengan pola yang selama ini dikenal petani.

Karena itu, menurut Asiah, langkah menghadapi kekeringan tidak cukup hanya dilakukan ketika musim kemarau tiba. Adaptasi harus menjadi bagian dari sistem pertanian dalam jangka panjang.

Infrastruktur Air hingga Benih Tahan Kekeringan

Sejumlah langkah dinilai perlu diperkuat, mulai dari riset varietas tanaman tahan kekeringan hingga pembangunan infrastruktur air berskala kecil.

Asiah mendorong agar pengembangan varietas tahan kekeringan dipercepat dan hasil penelitian benar-benar dapat dimanfaatkan petani.

Selain itu, pembangunan embung maupun sumur resapan di tingkat desa dinilai dapat menjadi salah satu langkah yang lebih cepat diterapkan untuk membantu menjaga ketersediaan air dibandingkan hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur bendungan besar yang membutuhkan waktu panjang.

Baca Juga  Indeks Ketahanan Pangan Kaltim Peringkat Dua Nasional, Produksi Beras Tembus 158,5 Ribu Ton

Peran perguruan tinggi dan lembaga penelitian juga dinilai penting. Berbagai penelitian mengenai pola tanam adaptif, penggunaan mulsa untuk mempertahankan kelembapan tanah hingga teknik budidaya hemat air disebut telah tersedia.

Namun, tantangannya adalah bagaimana hasil penelitian tersebut dapat diterapkan secara langsung di tingkat petani.

“Yang sering hilang adalah jembatan penghubung antara laboratorium dan sawah petani,” tulis Asiah. Ia juga menilai pendampingan penyuluh pertanian perlu diperkuat, terutama selama periode kritis dari masa tanam hingga panen.

Kebijakan Daerah Dinilai Perlu Lebih Konkret

Di tingkat daerah, informasi mengenai prediksi iklim juga perlu diterjemahkan menjadi kebijakan pertanian yang lebih konkret.

Asiah menilai pemerintah daerah dapat menyusun strategi tanam berdasarkan prediksi iklim, termasuk menyiapkan bantuan benih tahan kekeringan dan akses air darurat untuk wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi.

Dalam tulisannya, ia juga menyoroti sejumlah wilayah di luar Jawa yang disebut berpotensi terdampak, termasuk Kalimantan bagian selatan, Sulawesi dan Papua bagian selatan. Menurutnya, perhatian terhadap ketahanan pangan perlu mencakup wilayah di luar Jawa karena daerah-daerah tersebut juga memiliki kontribusi terhadap produksi pangan nasional.

Gagal Panen Bukan Sekadar Angka Produksi

Dampak kekeringan juga tidak berhenti pada persoalan produksi pertanian. Menurut Asiah, gagal panen berulang dapat memberikan tekanan ekonomi terhadap keluarga petani.

Baca Juga  Seno Aji Berikan Apresiasi Kejuaraan Karate Liga Pelajar Se-Kaltim

Kondisi tersebut dapat berujung pada bertambahnya utang, terganggunya pendidikan anak, hingga menurunnya kepercayaan petani untuk kembali mengelola lahan pada musim berikutnya.

Karena itu, kebijakan menghadapi kekeringan dinilai tidak cukup hanya mengukur keberhasilan melalui angka produksi nasional. Ketahanan ekonomi petani juga perlu menjadi bagian dari perhatian.

Asiah menilai perubahan iklim membuat pola El Nino dan La Nina semakin sulit diprediksi secara pasti, sementara kejadian cuaca ekstrem cenderung semakin sering terjadi.

Menurutnya, tantangan ke depan bukan lagi sekadar memprediksi kapan kekeringan datang, tetapi memastikan kesiapan sektor pertanian ketika kondisi tersebut terjadi.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah kekeringan akan datang lagi, melainkan apakah kita sudah cukup siap ketika ia datang,” tulis Asiah.

Penulis: Asiah Wati, Dosen Program Studi Agroteknologi, Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda.